**Pedang yang Menangis di Tangan Baru** Hujan menyelimuti Bukit Pemakaman Bulan. Setiap tetesnya, seperti _air mata_ yang jatuh di atas nisan-nisan yang berlumut. Bayangan panjang menari-nari di antara batu-batu itu, menolak untuk beranjak meski mentari telah lama tenggelam. Di sanalah dia berdiri, Ling, arwah yang kembali dari alam antara. Dulu, Ling adalah seorang pendekar. Pedangnya, *“Airmata Dewa”*, adalah legenda yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun, pedang itu kini terasa begitu berat di tangannya. Dulu, ia mati terkhianati, tuduhan palsu menghancurkan kehormatannya, dan kebenaran terkubur bersamanya. Kini, dia kembali. Bukan untuk menuntut balas. _Bukan_. Setiap malam, dia menyusuri jalanan yang menghubungkan dunia hidup dan alam arwah. Aura dinginnya menyelimuti tempat-tempat yang dulu begitu familiar. Ia mencari petunjuk, bisikan samar dari masa lalu yang hilang. Ia melihat wajah-wajah yang pernah dikenalnya, kini hidup dalam ketenangan atau disiksa penyesalan. Ingatan mengalir bagaikan sungai yang meluap. Ia mengingat senyum ibunya, tatapan bangga gurunya, dan **pengkhianatan** sahabatnya. Dendam menggerogoti hatinya, namun ada sesuatu yang lebih kuat, yang mendorongnya maju. Suatu malam, di kuil tua yang terlupakan, ia menemukan sebuah catatan. Sebuah surat yang disembunyikan bertahun-tahun lalu. Surat itu mengungkap kebenaran, bahwa ia dijebak, bahwa ada konspirasi yang lebih besar di baliknya. *Airmata Dewa* bergetar di tangannya. Bukan karena amarah, melainkan karena beban yang terangkat. Ia tidak lagi mencari keadilan di dunia manusia. Ia tidak lagi terikat pada dendam. Yang ia inginkan hanyalah kedamaian. Ia menghadap ke arah Bukit Pemakaman Bulan. Hujan masih turun, namun kini terasa berbeda. Bukan air mata, melainkan berkah. Ia memejamkan mata, dan melepaskan pedangnya. *Airmata Dewa* tergeletak di tanah, memantulkan cahaya bulan yang pucat. "Akhirnya..." Ia telah menemukan apa yang dicari. Kedamaian yang selama ini menghantuinya. Sekarang dia bisa pergi. Dan di kejauhan, di tengah gemuruh hujan dan bayangan yang menari, terdengar bisikan angin seperti... sebuah senyuman terakhir.
You Might Also Like: Tutorial Sunscreen Mineral Dengan

Post a Comment