Dracin Seru: Aku Hanya Teks, Tapi Luka Itu Nyata

Baik, ini dia kisah dracin tragis berjudul 'Aku Hanya Teks, Tapi Luka Itu Nyata': **Aku Hanya Teks, Tapi Luka Itu Nyata** Hujan gerimis membasahi atap paviliun tempat kami berdua biasa menghabiskan waktu. Dulu, tawa kami beresonansi di antara pilar-pilar kayu, sekarang hanya kesunyian yang menggantung. Di hadapanku, berdiri Ren, **SAUDARAKU**, sahabatku, musuh yang menjelma dari mimpi burukku. Matanya yang dulu sehangat mentari, kini sedingin es. "Ingatkah kau, Lian?" suaranya bagai desisan ular di tengah malam. "Saat kita berjanji untuk saling melindungi, di bawah pohon persik itu?" Aku menelan ludah, merasakan pahitnya pengkhianatan merayapi kerongkonganku. "Janji? Kau tahu benar, Ren, janji hanyalah *TEKS* yang mudah terhapus." Kami tumbuh bersama di bawah naungan Klan Bai. Aku, Lian, anak haram yang keberadaannya nyaris tak kasat mata. Ren, pewaris tunggal yang dipuja dan dihormati. Aku menjadi bayangannya, pedang pelindungnya, rela menerima setiap tusukan agar dia tetap utuh. Tapi, rahasia itu… rahasia yang kami berdua simpan rapat-rapat, perlahan menggerogoti fondasi persaudaraan kami. Dulu, aku mengaguminya. Sekarang, yang tersisa hanyalah rasa jijik. "Kau tahu, Lian, aku selalu iri padamu," lanjut Ren, senyum tipisnya menakutkan. "Kau memiliki hati yang tulus. Aku… hanya memiliki ambisi." "Ambisi yang membutakanmu, Ren. Ambisi yang membawamu membunuh ayah kandungmu sendiri," bisikku, kata-kata itu bagai pecahan kaca yang melukai lidahku. Matanya membulat, tapi sedetik kemudian, senyum itu kembali. "Itu *KEBENARAN* yang terlalu berat untuk kau pikul, bukan?" Di sinilah letak misterinya. Ayah Ren, kepala Klan Bai, meninggal secara misterius. Di balik senyumnya yang lembut, Ren menyembunyikan rahasia kelam: dia meracuni ayahnya sendiri demi menduduki takhta. Aku tahu karena AKU MENYAKSIKANNYA. Tapi, aku memilih diam. Demi persahabatan kami, demi keluarga kami. Kebodohan yang kini menghantuiku. "Mengapa, Lian? Mengapa kau memilih diam?" tanyanya, nada suaranya berubah, ada sedikit keputusasaan di sana. "Karena aku bodoh, Ren! Aku percaya padamu! Aku pikir, kau akan berubah! Tapi, kau… kau hanya haus kekuasaan!" Pertempuran dimulai. Pedang kami beradu, menciptakan percikan api di tengah kegelapan. Setiap ayunan pedang adalah luapan kekecewaan, setiap tebasan adalah teriakan kesakitan. Kami menari dalam pusaran kebencian dan penyesalan. Di saat Ren lengah, aku menusuknya. Bukan di jantung, tapi di bahunya. Luka yang cukup untuk membuatnya berlutut. "Kau tidak akan membunuhku?" tanyanya, terengah-engah. "Tidak, Ren. Kematian terlalu mudah untukmu. Kau akan hidup dengan rasa bersalah ini. Kau akan melihat Klan Bai runtuh di tanganmu. Kau akan merasakan apa yang kurasakan selama ini." Aku berbalik, meninggalkannya terkapar di tengah hujan. **BALAS DENDAM** telah terbayar. Tapi kemenangan ini terasa hampa. Kebenaran telah terungkap, tapi luka itu tetap menganga. *Mungkin… aku memang seharusnya tidak pernah dilahirkan…*
You Might Also Like: Distributor Skincare Passive Income

Post a Comment