## Tangisan yang Mengakhiri Semua Cinta Rembulan pucat menggantung di atas Danau Xihu, memantulkan bayangan keruh di permukaannya. Liu Mei, dengan gaun sutra putih yang kini kotor dan basah, berdiri di tepi dermaga. Angin malam menggigit kulitnya, namun rasa dingin itu tak sebanding dengan gemuruh di dadanya. Di hadapannya, terbaring Zhao Wei, sang jenderal yang perkasa, yang hatinya telah ia percayakan, yang janjinya telah ia genggam erat. Kini, Zhao Wei bernapas dengan susah payah, darah mengalir dari luka di dadanya, matanya nanar menatap langit. "Liu Mei... *Maafkan* aku," bisik Zhao Wei, suaranya serak tertahan. "Aku... aku terikat sumpah... pada keluarga... bukan padamu..." Liu Mei terisak. Bukan isak tangis histeris, melainkan tangisan sunyi yang merobek hatinya menjadi jutaan kepingan. Bukan karena Zhao Wei menikahi putri jendral lain, bukan karena ambisi yang mengalahkan cinta mereka. Melainkan karena *kebohongan* yang terukir dalam setiap tatapan, setiap sentuhan, setiap janji yang diucapkannya. "Kebohonganmu... membunuhku lebih cepat dari pedang ini," lirih Liu Mei, menggenggam erat belati perak yang masih berlumuran darah. Bukan ia yang menusuk Zhao Wei. Bukan tangannya yang mengakhiri hidup jenderal itu. Melainkan *pengkhianatan* itu sendiri. Zhao Wei mengulurkan tangan, berusaha meraih Liu Mei. "Aku... aku mencintaimu... Liu Mei..." Liu Mei mundur selangkah. "Cinta? Cinta macam apa yang dibangun di atas pasir? Cinta macam apa yang mengkhianati hati yang tulus?" Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya. Tangisan itu bukan lagi tangisan kesedihan, melainkan tangisan *kebebasan*. Bebas dari ilusi, bebas dari harapan palsu. "Kau memilih sumpah... kau memilih kekuasaan..." Liu Mei menatap Zhao Wei dengan tatapan dingin. "Semoga kekuasaanmu menjadi kutukanmu... dan sumpahmu menjadi penjara abadimu." Saat mata Zhao Wei terpejam untuk selamanya, Liu Mei melempar belati perak itu ke danau. Ia berbalik, meninggalkan jasad sang jenderal di bawah rembulan yang kesepian. Ia tahu, Keluarga Zhao yang perkasa akan mencari pembunuh. Mereka akan menghancurkan siapapun yang berani menyentuh jenderal mereka. Tapi, Liu Mei tidak takut. Ia tahu, *takdir* punya caranya sendiri untuk membalas dendam. Bertahun-tahun kemudian, dinasti berganti. Keluarga Zhao yang dulu berkuasa, runtuh karena intrik dan pengkhianatan dari dalam. Putra mahkota, yang dulunya dijanjikan tahta, menghilang tanpa jejak. Dan di balik layar, tersenyum seorang wanita dengan mata sedingin es dan hati sekeras baja, yang kini dikenal sebagai penasihat kaisar yang paling berpengaruh. Ia tidak melakukan apapun secara langsung. Ia hanya menanam benih, dan membiarkan takdir menyiraminya dengan air mata dan darah. Cinta dikubur, dendam bersemi; benih yang ditanam dalam tangisan itu tumbuh menjadi pohon kematian yang indah.
You Might Also Like: 26 Cara Sunscreen Lokal Dengan Ekstrak

Post a Comment