Drama Populer: Ia Datang Saat Aku Sudah Tak Percaya Pada Kehidupan

**Ia Datang Saat Aku Sudah Tak Percaya pada Kehidupan** Di taman lotus yang diliputi kabut *ungu senja*, jiwaku merapuh. Bunga-bunga itu, dulu melambangkan harapan, kini hanya bayangan bisu di mataku. Aku, Lin Yue, sang perias mimpi yang kehilangan warna, terdampar di tepi jurang keputusasaan. Dahulu, kuas-kuasku menari di atas sutra, menciptakan kembang api di kanvas jiwa. Sekarang, mereka tergeletak tak berdaya, seperti sayap patah burung *Phoenix*. Kehidupan, bagiku, hanyalah gema hampa di istana yang ditinggalkan kaisar. Kemudian, ia datang. Seperti *kilatan petir* di malam tanpa bintang, sosoknya menerangi kegelapan hatiku. Xiao Chen, pria dengan mata sekelam obsidian dan senyum sehangat mentari pagi. Ia muncul dari lorong waktu yang terlupakan, seorang pelukis awan yang menyimpan seribu musim semi di dalam jiwanya. "Kau mencari apa di sini, Lin Yue?" suaranya bagai bisikan angin di antara daun bambu, lembut namun menusuk kalbu. Aku menggeleng. "Aku tidak mencari apa pun. Aku hanya menunggu... menunggu senja menelanku." Ia tertawa, suara yang membuat jantungku berdegup kencang, sebuah melodi yang sudah lama kulupakan. "Senja tidak menelan. Ia memeluk. Dan aku di sini, untuk memelukmu, Lin Yue." Bersamanya, taman lotus kembali mekar. Bersamanya, kuas-kuas menari lagi. Ia mengajarkanku bahwa warna tidak pernah hilang, hanya tersembunyi di balik debu kenangan. Kami melukis bersama, menciptakan dunia baru di atas kanvas mimpi, dunia di mana burung *Phoenix* terbang bebas di angkasa. Cinta kami, selembut benang sutra yang menenun hati, begitu *sempurna* hingga terasa tidak nyata. Setiap sentuhan, setiap tatapan, terasa seperti mimpi indah yang takut ku terbangunkan. Aku bertanya-tanya, mungkinkah ia hanya ilusi? Mungkinkah ia hanya pantulan dari kerinduan hatiku yang terdalam? Mungkinkah Xiao Chen hanyalah *roh* yang dikirim dewa untuk menghibur jiwa yang terluka? Waktu berlalu, seperti butiran pasir yang lolos dari genggaman. Kebahagiaan kami terasa rapuh, seperti gelembung sabun yang menunggu pecah. Hingga suatu malam, di bawah rembulan yang memudar, ia menggenggam tanganku erat. "Lin Yue," bisiknya, "Aku harus pergi." Pergi? Ke mana? Mengapa? Pertanyaan-pertanyaan itu membanjiri benakku, seperti air bah yang menghancurkan bendungan. "Aku... aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi. Aku adalah... *lukisan yang hidup*. Dan lukisan harus kembali ke kanvasnya." Air mata mengalir di pipiku, seolah meruntuhkan pertahanan yang selama ini kubangun. Aku tidak mengerti. Aku tidak ingin mengerti. Ia menyentuh pipiku dengan lembut. "Jangan menangis, Lin Yue. Ingatlah semua warna yang kita ciptakan. Ingatlah semua mimpi yang kita lukis. Aku akan selalu bersamamu, di dalam hatimu, di dalam lukisanmu." Ia memudar, sedikit demi sedikit, kembali menjadi warna-warna yang mengalir di udara. Saat ia menghilang sepenuhnya, aku menemukan sebuah gulungan lukisan di tanganku. Di sana, terpampang wajahku, dengan air mata yang mengalir di pipi, dan di belakangku, berdiri seorang pria dengan mata sekelam obsidian dan senyum sehangat mentari pagi, memelukku dari belakang. Lukisan itu berjudul: "Senja yang Tak Pernah Usai". Dan di sudut bawah lukisan, tertulis sebuah nama: *Lin Xiao Chen*. **Pengungkapan:** Lin Xiao Chen. Xiao Chen adalah nama kakekku. Seorang pelukis hebat yang meninggal dunia sebelum aku lahir. Ia selalu melukis senja, selalu melukis taman lotus. Dan ia selalu bercerita tentang seorang wanita bernama Lin Yue, wanita yang dicintainya namun tak pernah bisa ia miliki. *Apakah aku hanyalah reinkarnasi dari cintanya yang hilang?* _Bisikan angin itu masih terdengar, memanggil namaku dari kejauhan._
You Might Also Like: 197 Intricate Tapestry Of Human Thought

Post a Comment