**Takhta yang Retak oleh Doa Terakhir** Hujan turun di atas makam kaisar, airnya membasahi prasasti yang baru saja ditorehkan. Sunyi. Begitu **dalam**, begitu menghanyutkan. Di antara tetesan air yang berirama, Li Wei, sang kaisar yang baru saja mangkat, berdiri. Bukan dalam jubah kebesaran, melainkan aura pucat yang berdenyut lemah. Bayangannya enggan pergi, menempel di nisan seperti dosa yang tak terampuni. Ia mati sebelum kebenaran sempat terucap. Di antara intrik istana, racun dalam teh, dan pengkhianatan yang berbisik, ia roboh. Tak sempat membela diri, tak sempat menjelaskan, tak sempat **MENGAKUI**. Sekarang, ia kembali. Bukan untuk menuntut takhta yang direbut paksa, bukan untuk membalas dendam pada mereka yang berdosa. Bukan. Tujuannya lebih *dalam* dari sekadar nafsu duniawi. Istana megah, dulu saksi bisu kekuasaannya, kini terasa asing. Ia mengembara di lorong-lorong gelap, melewati para abdi yang tak menyadari kehadirannya. Setiap langkah adalah doa yang tak selesai, setiap desah adalah rintihan hati yang terluka. Ia mencari, mengumpulkan serpihan-serpihan kenangan yang berserakan. Ia melihat adiknya, Li Cheng, duduk di takhtanya. Raut wajahnya tegang, mata yang dulu penuh kasih sayang kini dipenuhi curiga. Ia melihat permaisurinya, Xiao Mei, termenung di taman bunga kesukaannya. Air matanya jatuh perlahan, membasahi kelopak mawar putih. Ia melihat penasihatnya, Zhao Yun, berbisik-bisik dengan para pejabat istana. Semua terlihat salah, semuanya terasa *palsu*. Li Wei menyusuri kembali malam terakhirnya. Rasa pahit racun yang membakar kerongkongan, bisikan Zhao Yun tentang konspirasi, air mata Xiao Mei yang terasa asin di bibirnya. Ia mengingat semua, menyusunnya menjadi sebuah gambar yang utuh. Namun, semakin ia mendekati kebenaran, semakin jelas ia menyadari, bahwa bukan balas dendam yang ia cari. Bukan pula pengakuan. Yang ia dambakan adalah **KEDAMAIAN**. Kedamaian bagi jiwanya yang tersiksa, kedamaian bagi mereka yang ditinggalkannya. Ia menemukan sebuah kotak kecil di balik lukisan kaisar pertama. Di dalamnya, gulungan surat wasiat. Bukan wasiat yang pernah ia tulis di hadapan para saksi, melainkan wasiat pribadinya. Di dalamnya tertulis kebenaran tentang pengkhianatan, tentang cintanya pada Xiao Mei, tentang penyesalannya atas kesalahan-kesalahannya. Ia menyadari bahwa Zhao Yun telah memanipulasi segalanya. Ia telah menjebaknya, menggunakan Xiao Mei sebagai umpan. Kebencian Zhao Yun berakar pada dendam masa lalu, ketika ayah Li Wei menghukum keluarganya. Dengan sisa-sisa kekuatannya, Li Wei menggerakkan tangannya. Ia mendorong gulungan wasiat itu keluar dari kotak, membiarkannya jatuh di kaki Xiao Mei, yang saat itu kebetulan melewati lukisan tersebut. Xiao Mei memungutnya, membacanya dengan air mata yang semakin deras. Di saat yang sama, Li Cheng tiba. Ia melihat surat itu, membaca kebenaran yang selama ini disembunyikan. Amarahnya meledak, ia memerintahkan penangkapan Zhao Yun. Tugasnya selesai. Kebenaran telah terungkap. Takhta yang retak kini memiliki kesempatan untuk diperbaiki. Li Wei menatap Xiao Mei dan Li Cheng. Di matanya, terpancar harapan dan kesedihan. Ia telah melakukan semua yang ia bisa. Sekarang, waktunya untuk pergi. Ia merasakan tarikan dari dunia lain, sebuah panggilan yang tak bisa ditolak. Ia baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya, sebelum *cahaya* itu merenggutnya pergi.
You Might Also Like: Cerpen Seru Dendam Yang Kutulis Di

Post a Comment