Baiklah, ini dia, sebuah Dracin modern berjudul 'Tangisan yang Tak Lagi Minta Maaf': **Tangisan yang Tak Lagi Minta Maaf** Hujan mengguyur Jakarta malam itu, sama derasnya dengan notifikasi yang berkedip di layar ponsel Lin. Setiap tetes air yang menabrak jendela apartemennya seolah memantulkan *bayangan* masa lalu, sebuah masa lalu yang dipenuhi aroma kopi pagi dan sisa chat yang tak terkirim. Lin menatap layar, jemarinya berhenti tepat di atas nama "Rei". Dulu, nama itu adalah sumber kebahagiaan, panggilan yang selalu dinanti. Sekarang, nama itu hanya menjadi *pengingat*. Pengingat tentang cinta yang lahir di antara notifikasi, mimpi, dan janji yang kini terasa hampa. Rei. Pria yang dulu membuatnya tertawa hingga air mata menetes, pria yang membuatnya percaya pada keajaiban, pria yang *menghilang* tanpa jejak. Perasaan kehilangan itu samar, namun menusuk. Seperti aroma parfumnya yang tertinggal di sweater Lin, atau nada dering ponselnya yang masih menyanyikan lagu favorit mereka. Misteri hubungan mereka yang belum selesai menggantung di udara, seperti kabut tebal yang menyelimuti kota. Lin menyeruput kopi pahitnya, berusaha menenangkan diri. Ia ingat percakapan terakhir mereka, pertengkaran kecil yang seharusnya tidak menjadi akhir dari segalanya. Kata-kata kasar terlontar, pintu dibanting, dan kemudian…sunyi. Lin tahu ada sesuatu yang disembunyikan Rei. Ia merasakan getaran aneh dalam setiap tatapan matanya, keheningan yang lebih berat dari biasanya. Ia mencoba mencari tahu, menyelidiki media sosialnya, bertanya pada teman-temannya. Namun, Rei menghilang seolah ditelan bumi. Hingga suatu malam, secara tidak sengaja, Lin menemukan sebuah folder tersembunyi di laptop Rei. Folder itu berisi foto-foto seorang wanita, seorang wanita yang sangat mirip dengannya…kecuali, wanita itu *bahagia*. Di setiap foto, wanita itu tertawa lepas, memancarkan aura positif yang tidak pernah Lin lihat pada dirinya sendiri. Di bawah salah satu foto, terdapat sebuah catatan kecil: "Untuk Mila, cinta yang seharusnya kumiliki. Maafkan aku." *Mila*. Nama itu menggema di benak Lin. Itu adalah nama mantan kekasih Rei, wanita yang konon telah meninggalkannya demi pria lain. Semua potongan puzzle itu akhirnya menyatu. Rei tidak menghilang karena bosan atau tidak cinta lagi. Rei menghilang karena ia *tidak bisa* mencintai Lin sepenuhnya. Ia masih terikat pada kenangan Mila, pada penyesalan masa lalu yang tak pernah bisa ia lepaskan. Malam itu, Lin menangis. Bukan tangisan marah atau putus asa, melainkan tangisan penerimaan. Ia akhirnya mengerti bahwa ia tidak bisa memaksa Rei untuk mencintainya seperti yang ia inginkan. Ia harus melepaskannya, membebaskannya dari bayang-bayang masa lalu. Keesokan harinya, Lin mengirimkan sebuah pesan terakhir kepada Rei. Bukan makian, bukan permintaan maaf, melainkan sebuah *pesan sederhana*: "Semoga kamu bahagia, Rei." Lin kemudian menghapus semua foto Rei dari ponselnya, membuang sweater yang beraroma parfumnya, dan mengganti nada dering ponselnya. Ia memutuskan untuk memulai lembaran baru, tanpa ada jejak Rei di dalamnya. Balas dendam lembut? Mungkin. Lebih tepatnya, sebuah *keputusan* untuk mencintai diri sendiri lebih dari mencintai siapa pun. Sebuah keputusan untuk menutup segalanya tanpa kata. Lin tersenyum tipis, menatap hujan yang mulai mereda. Ia tahu, ia akan baik-baik saja. Dan mungkin, di suatu tempat di sana, Rei juga akan baik-baik saja… atau mungkin tidak. ***Siapa yang tahu***?
You Might Also Like: Full Drama Mahkota Yang Berlumur Darah

Post a Comment