Baik, ini dia kisah dracin tragis yang Anda minta: **Kau Menatapku dengan Marah, Tapi Aku Tahu Itu Cinta yang Hancur.** Dulu, debu jalanan Chang’an adalah saksi bisu persahabatan kami. Aku, Li Wei, dan dia, Zhang Hao. Saudara sepersusuan, berlomba mengejar layang-layang di bawah mentari senja. Tawa kami, bisingnya pasar, adalah melodi masa kecil kami yang tak terpisahkan. Dia, Zhang Hao, selalu melindungiku. Aku, Li Wei, selalu percaya padanya. Tapi waktu adalah sungai yang keruh. Menggerogoti kepercayaan, menyembunyikan rahasia di kedalamannya. "Wei," bisiknya suatu malam, di bawah rembulan yang pucat. "Janji padaku, apa pun yang terjadi, kau akan selalu memercayaiku." Matanya, sehitam obsidian, menyimpan badai yang belum terucap. Aku, yang masih polos, mengangguk penuh keyakinan. Kemudian datanglah malam itu. Malam *neraka*. Ayahku, jenderal besar Li, dituduh berkhianat. Istana terbakar. Keluarga kami dibantai. Aku, satu-satunya yang selamat, bersembunyi di balik bayang-bayang, melihat semuanya. Dan di sana, di tengah kobaran api, aku melihat Zhang Hao. Bukan sebagai penyelamat. Bukan sebagai saudara. Tapi sebagai **pemberi komando.** Senyumnya, dingin dan kemenangan, membuat hatiku membeku. Dia, Zhang Hao, berdiri di samping kaisar yang baru. Dia, Zhang Hao, adalah dalang dari semua ini. Bertahun-tahun berlalu. Aku berlatih, menempa diriku menjadi mesin pembunuh yang sempurna. Dendam membara dalam setiap hembusan napasku. Aku menyusup ke istana, menyamar, menunggu waktu yang tepat. Suatu malam, di taman kekaisaran yang sunyi, kami bertemu kembali. "Zhang Hao," desisku, pedang di tangan. Dia menoleh. Matanya melebar. "Wei… kau… hidup?" "Aku datang untuk membalas dendam." Dia tertawa. Tawa yang getir, tanpa kebahagiaan. "Dendam? Kau pikir aku menginginkan ini semua? Kau pikir aku tidak menderita?" "Menderita? Kau yang membunuh keluargaku!" "Wei… kau salah. Ayahmu… dia…” Dia berhenti, ragu. "Dia adalah mata-mata. Bekerja untuk bangsa Barbar utara. Kaisar terpaksa… melakukan apa yang harus dilakukan." Aku tertawa sinis. "Kebohongan! Kau berbohong!" "Tidak! Aku bersumpah! Aku melakukan ini untuk melindungimu! Jika aku tidak melakukannya, kau juga akan mati!" "Melindungiku? Dengan membunuh orang tuaku? Dengan mengkhianati seluruh keluarga kami?!" Pertempuran pun terjadi. Pedang beradu, memercikkan api di kegelapan. Setiap tebasan adalah teriakan sakit hati. Setiap tangkisan adalah pengakuan cinta yang hancur. "Mengapa, Zhang Hao? Mengapa kau melakukannya?" "Karena aku mencintaimu, Wei! Selalu. Dari dulu hingga sekarang. Aku lebih baik mati daripada melihatmu terluka." Aku tertegun. Pedangku gemetar. "Cinta? Ini bukan cinta. Ini pengkhianatan. Ini **KEBOHONGAN BESAR**!" Dengan raungan putus asa, aku menebasnya. Dia ambruk. Darah mengalir deras dari dadanya. "Wei…" bisiknya, tangannya meraih wajahku. "Kau… tidak mengerti…" Dia menyerahkan sebuah gulungan kepadaku. Aku membukanya. Air mata mengalir di pipiku. Di sana tertulis, dengan tinta merah darah, pengakuan ayahku. Bahwa dia memang bekerja untuk bangsa Barbar. Bahwa dia telah mengkhianati negara. Bahwa dia meminta Zhang Hao untuk membunuhnya, demi melindungi putranya. “Zhang Hao… kau…” Dia tersenyum lemah. Darah menetes dari bibirnya. "Aku selalu… mencintaimu… Wei…" Dia menghembuskan napas terakhirnya. Di pelukanku. Dunia berputar. Kebenaran menghantamku seperti badai. Aku telah menghancurkan satu-satunya orang yang mencintaiku. Aku telah membunuh penyelamatku. Dendamku terpenuhi. Tapi hatiku… **HANCUR.** Di sana, di taman yang sunyi, di bawah rembulan yang pucat, aku terduduk, memeluk mayatnya. "Mungkin… di kehidupan selanjutnya… kita bisa bersama…"
You Might Also Like: Diskon Skincare Lokal Berkualitas Beli

Post a Comment