Baik, ini dia kisah absurd bergaya Dracin berjudul "Rahasia yang Menjadi Legenda": **RAHASIA YANG MENJADI LEGENDA** Dunia ini retak. Bukan retak biasa. Lebih seperti layar ponsel yang jatuh dari lantai sepuluh, masih menyala tapi tak bisa lagi disentuh. Di antara sinyal yang hilang dan _chat_ yang berhenti di 'sedang mengetik...' selamanya, Li Wei, seorang arsitek dari tahun 2047, berusaha menemukan secercah harapan. Harapan itu bernama Mei Lin. Mei Lin, seorang penyair dari tahun 1927, terjebak dalam kabut Shanghai yang abadi. Kertas-kertas puisinya berbau dupa dan kerinduan, kata-katanya adalah jembatan rapuh menuju _entah_ ke mana. Langit menolak pagi, selalu senja yang menggantung, seperti status hubungan yang tak pernah terdefinisi. Mereka bertemu dalam mimpi. Mimpi aneh yang dikirimkan oleh gelombang elektromagnetik yang kacau. Li Wei melihat Mei Lin di layar retaknya, Mei Lin mendengar suara Li Wei di radio tua yang berderak. Cinta tumbuh, seperti lumut di tembok beton. Sebuah **cinta** yang absurd, lintas dimensi, dan jelas-jelas tidak masuk akal. "Apakah kau nyata?" bisik Li Wei, jarinya mengusap layar, seolah bisa menyentuh pipi Mei Lin yang hanya berupa piksel. "Se-nyata mimpi buruk," jawab Mei Lin, suaranya serak seperti lagu lama yang diputar berulang-ulang. Mereka mencari satu sama lain. Li Wei menelusuri arsip digital yang usang, mencari jejak Mei Lin di antara berita-berita lama dan foto-foto buram. Mei Lin menyusuri jalanan Shanghai yang berkabut, meneriakkan nama Li Wei ke dalam mikrofon yang berkarat, berharap suaranya bisa menembus waktu. Namun, setiap langkah mendekat justru menjauhkan mereka. Setiap _'sedang mengetik...'_ yang tak pernah selesai, setiap sinyal yang hilang, menjadi jurang yang semakin dalam. Akhirnya, Li Wei menemukan jawabannya. Di sebuah kuil tua yang tersembunyi di reruntuhan kota. Di sana, terukir di dinding yang berlumut, terlukis kisah cinta abadi... antara arsitek masa depan dan penyair masa lalu. Kisah mereka bukan tentang dua orang yang bertemu. Bukan tentang takdir yang mempertemukan. Melainkan tentang *ECHO* dari kehidupan yang tak pernah selesai. **Mereka berdua** hanyalah _manifestasi_ dari siklus yang tak pernah putus. Cinta mereka adalah bayangan dari bayangan, kenangan dari kenangan. Sebuah _paradoks_ yang indah dan menyakitkan. Sebelum dunia benar-benar padam, dan layar retak itu berubah menjadi kegelapan abadi, Li Wei mendengar suara Mei Lin sekali lagi, "Ingatkah... pada saat kita...."
You Might Also Like: Unveiling Secrets Of Curly Hair

Post a Comment