Baiklah, ini dia kisah *dracin* (drama China) bertajuk "Pelukan yang Terjadi di Tengah Kuburan", dengan sentuhan reinkarnasi dan nuansa takdir: **Pelukan yang Terjadi di Tengah Kuburan** Hujan gerimis menari di antara nisan-nisan tua, membasahi tanah makam yang sunyi. Xia Wei, dengan payung hitam di tangannya, berdiri terpaku di depan sebuah batu nisan yang lapuk. Nama "Lin Qing" terukir samar di sana, seolah ditelan waktu. Seratus tahun. Seratus tahun sejak *dosa* itu diperbuat. Ia merasakan tarikan aneh, bukan hanya rasa sedih, tapi juga **_keakraban_**. Seolah jiwanya mengenali tempat ini, mengenal nama itu, lebih dalam dari yang ia pahami. Tiba-tiba, dari balik kabut, muncul seorang pria. Wajahnya pucat, matanya redup, tapi tatapannya...tatapannya membuat jantung Xia Wei berdebar tak karuan. Pria itu mendekat, langkahnya pelan, seolah terbebani ingatan yang berat. "Kau...mengenalku?" bisik Xia Wei, suaranya bergetar. Pria itu, yang memperkenalkan diri sebagai Zhao Feng, hanya menggeleng lemah. "Tidak. Tapi...aku merasa *tertarik* ke tempat ini. Sejak kecil, aku selalu bermimpi tentang kuburan ini, tentang seorang wanita yang menangis di depan nisan." Setiap hari, mereka bertemu di kuburan itu. Xia Wei membawa bunga *peony* putih, bunga kesukaan Lin Qing. Zhao Feng hanya berdiri diam, menatap nisan, seolah mencoba menggali ingatan dari dalam lubuk jiwanya. Bunga *peony* itu mekar seolah mengenang masa lalu. "Aku mendengar suaranya," Zhao Feng berkata suatu sore, suaranya serak. "Suara wanita yang memanggil namaku. Bukan Zhao Feng, tapi nama lain...Lin Yue." *Lin Yue*. Nama itu bagai sengatan listrik bagi Xia Wei. Lin Yue adalah kekasih Lin Qing, seratus tahun yang lalu. Mereka berdua dijebak, difitnah melakukan pengkhianatan, dan dieksekusi di depan umum. Sebelum meninggal, Lin Qing berjanji akan membalas dendam, namun Xia Wei meyakini pembalasan dendam bukanlah jalan keluarnya. Melalui mimpi-mimpi dan penglihatan yang semakin jelas, mereka mulai menyusun kepingan masa lalu. Lin Qing dan Lin Yue saling mencintai, namun seorang pejabat korup bernama Tuan Zhang menginginkan Lin Qing untuk dirinya sendiri. Tuan Zhang menjebak mereka, memalsukan bukti, dan menghancurkan hidup mereka. Kebenaran pahit itu akhirnya terungkap. Zhao Feng, atau lebih tepatnya *Lin Yue*, akhirnya mengingat semuanya. Amarah membara dalam dirinya. Ia ingin membalas dendam pada keturunan Tuan Zhang, yang kini menjadi pengusaha kaya raya dan berkuasa. Namun, Xia Wei menahannya. "Balas dendam hanya akan memperpanjang lingkaran kebencian. Biarkan keadilan ilahi yang bekerja. Kita bisa mengungkap kebenaran, membuktikan bahwa Lin Qing dan Lin Yue tidak bersalah. Itu adalah *pembalasan dendam* yang sesungguhnya." Zhao Feng menatap Xia Wei, matanya penuh keraguan. Namun, ia melihat ketulusan di mata wanita itu, ketulusan yang sama dengan yang ia lihat pada Lin Qing seratus tahun lalu. Mereka bekerja sama, mengumpulkan bukti, dan mengungkap kejahatan Tuan Zhang kepada publik. Skandal itu mengguncang seluruh negeri. Keluarga Zhang hancur, reputasinya tercoreng, dan kekayaannya disita. Di tengah kuburan, di bawah nisan Lin Qing, Xia Wei dan Zhao Feng berpelukan. Bukan pelukan nafsu, melainkan pelukan *keheningan*, pelukan *pengampunan*. Pelukan yang melepaskan rantai masa lalu. "Apakah kau menyesal?" tanya Zhao Feng, suaranya lirih. Xia Wei tersenyum tipis. "Tidak. Karena aku tahu, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi, tanpa dosa, tanpa janji, hanya ada cinta." Malam itu, di tengah kuburan yang sunyi, terdengar bisikan samar dari angin. " *Jangan lupakan aku…* "
You Might Also Like: Drama Baru Cinta Yang Menjadi Perang
Post a Comment