Kisah Populer: Bayangan Yang Menatapku Dari Balik Api

**Bayangan yang Menatapku dari Balik Api** Ling Yulan, seorang ahli teh muda yang namanya mulai dikenal di kota Hangzhou, selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Bukan kurang uang, bukan pula kurang kasih sayang dari keluarga angkatnya yang hangat. Ini adalah kurangnya ingatan; serpihan-serpihan mimpi yang tercium aroma dupa terbakar dan jeritan pilu di tengah medan perang. Di bawah pohon *wutong* tua di kedai tehnya, Yulan sering melamun. Pandangannya kerap tertuju pada perapian kecil tempat air mendidih untuk teh. Di sanalah, di balik lidah api yang menari-nari, ia melihat **BAYANGAN**. Bayangan seorang wanita dengan gaun sutra merah darah, tatapannya penuh pengkhianatan dan kesedihan yang tak terhingga. Mimpi Yulan semakin jelas dari hari ke hari. Ia melihat dirinya, bukan sebagai Yulan ahli teh, melainkan sebagai Jenderal Lu Meilin, seorang pahlawan wanita yang dikhianati oleh orang terdekatnya di medan perang seratus tahun lalu. Visi ini selalu hadir bersamaan dengan rasa *sakit yang menusuk* di dadanya. Suatu hari, seorang pria bernama Zhang Wei memasuki kedai tehnya. Ia memesan teh Longjing terbaik, sambil menatap Yulan dengan tatapan yang... familiar. Yulan merasa seperti melihat bayangan dari masa lalu. Saat Zhang Wei tersenyum, Yulan melihat kilatan pedang dan mendengar bisikan: "Kau akan mati di tanganku, Meilin." Zhang Wei memperkenalkan dirinya sebagai seorang kolektor artefak kuno. Ia menawari Yulan sebuah kalung giok berbentuk naga, mengatakan bahwa giok itu *sangat cocok* untuknya. Yulan menyentuh giok itu, dan kenangan pun membanjirinya. Ia mengingat jelas, Zhang Wei – atau tepatnya, reinkarnasi dari Jenderal pengkhianat, Li Xuan – adalah orang yang menusuk punggungnya dengan pedang berlumur racun di Pertempuran Lembah Seribu Ratapan. Semuanya jelas sekarang. "Maaf, Tuan Zhang," kata Yulan dengan senyum manis yang *dingin*. "Teh ini *agak* pahit. Mungkin saya akan menggantinya dengan teh Pu'er yang lebih… menyembuhkan." Teh Pu'er itu, tentu saja, bukan teh biasa. Yulan telah mempelajari racun herbal dari seorang biksu tua di pegunungan. Racun yang perlahan, tapi pasti, akan melumpuhkan Li Xuan, membuatnya menderita seperti yang Yulan rasakan seratus tahun lalu. Tidak ada jeritan, tidak ada konfrontasi. Hanya *SENYUM* Yulan yang menghantui Zhang Wei, senyum seorang wanita yang telah menunggu seratus tahun untuk membalas dendam. Beberapa bulan kemudian, Zhang Wei tiba-tiba menderita kelumpuhan. Ia terbaring di ranjang, menatap langit-langit, tak berdaya. Kedai teh Ling Yulan semakin ramai, dan Yulan sendiri semakin terkenal. Di bawah pohon *wutong*, Yulan menatap perapian. Bayangan itu masih ada, tapi kali ini, tatapannya penuh *kepuasan*. Ia telah membalas dendamnya, bukan dengan pedang dan teriakan, melainkan dengan takdir yang diubah. Saat malam tiba, Yulan meletakkan secangkir teh di depan foto Jenderal Lu Meilin, lalu berbisik pelan, "Kau akan melihatku merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu… **SUATU HARI NANTI.**"
You Might Also Like: Kekurangan Sunscreen Mineral Lokal

Post a Comment