Baiklah, ini dia kisah cinta absurd bergaya dracin dengan sentuhan modern-puitis, berjudul 'Cinta yang Mewarisi Kutukan Lama': **Cinta yang Mewarisi Kutukan Lama** Langit *berdenyut* kelabu, seperti baterai ponsel yang sekarat. Di dunia ini, pagi adalah kemewahan yang tak terbeli. Sinyal hilang timbul bagai ingatan yang memudar. Itulah napas kota Neo-Shanghai 2347, tempat Anya hidup. Anya, seorang _data scavenger_ dengan rambut dikepang digital dan mata yang menyimpan kilau matahari yang hilang, menemukan sebuah anomali. Sebuah pesan. Bukan pesan biasa, tapi getaran aneh yang merobek jaringan digital. Isinya: "Di bawah pohon persik yang mekar, aku menunggumu, Mei Lan." Mei Lan. Nama itu terasa asing sekaligus begitu dekat, seperti mimpi yang pernah ia lupakan. Pesan itu datang dari era 1897, era ketika pohon persik masih mekar dan internet hanyalah khayalan para pujangga. Sementara itu, di tepi danau di bawah pohon persik yang sedang mekar, Mei Lan menunggunya. Dia adalah seorang gadis muda dengan gaun sutra dan rambut hitam legam yang disisir rapi. Dia menulis puisi di atas kertas usang, puisi tentang kerinduan yang membakar jiwa. Dia tidak tahu siapa Anya, atau apa itu *data scavenger*, tapi dia merasakan keberadaannya. Setiap kali angin bertiup, dia mendengar bisikan aneh, seperti suara elektronik yang rusak. Mereka terhubung melalui celah waktu, melalui glitch dalam matriks realitas. Anya, dengan alat _data decoding_ buatannya, mencoba menjangkau Mei Lan. Chat mereka penuh dengan emoji yang tidak dimengerti, dengan kode-kode yang tidak bisa diterjemahkan, namun dipenuhi dengan **kerinduan** yang sama. “Aku melihatmu,” tulis Anya suatu malam, saat hujan asam menghantam jendela apartemennya. “Di mana?” balas Mei Lan, pena bambunya menari di atas kertas. “Aku hanya melihat kegelapan.” Mereka berjanji untuk bertemu. Anya menggunakan prototipe mesin waktu yang ia curi dari laboratorium rahasia. Mei Lan hanya memiliki keyakinan, dan sebuah jepit rambut berbentuk bunga persik. Namun, takdir punya selera humor yang kejam. Saat Anya melompat melalui pusaran waktu, Mei Lan hanya melihat bayangan yang lewat, aroma ozone dan logam dingin. Anya mendarat di danau yang kering kerontang, di mana pohon persik telah menjadi arang hitam. Tidak ada Mei Lan. Hanya debu dan bisikan angin. Ia menemukan sepotong kertas. Puisi yang belum selesai. Di baris terakhir tertulis: “...dan kutukan itu akan terus berlanjut sampai cinta sejati mematahkan rantainya.” Di balik kertas itu, sebuah skema silsilah yang rumit. Anya menelusuri garis keturunannya. Di bagian paling bawah, nama Anya terpampang. Di atasnya, nama Mei Lan. Mereka *berhubungan darah*, terikat oleh kutukan lama yang mewajibkan mereka untuk saling mencari, namun tidak pernah bertemu. Cinta mereka hanyalah gema dari kehidupan yang tak pernah selesai, siklus abadi yang dipicu oleh **KEGAGALAN** cinta di masa lalu. Anya memegang jepit rambut persik yang tiba-tiba muncul di telapak tangannya. Ia memejamkan mata. Ia mendengar suara Mei Lan, sayup-sayup, seperti pesan terakhir yang dikirim dari dunia yang memudar: "Mungkin… kita akan bertemu… di kehidupan berikutnya… jika… masih ada… kehidupan…"
You Might Also Like: 5 Rahasia Tafsir Memberi Makan Kadal

Post a Comment