**Ia Menikah Dengan Musuhku, Tapi Tetap Mencium Udara yang Sama** Kabut lotus mengambang di Danau Bulan Sabit, menyelimuti Pagoda Giok dengan kerudung mimpi. Di sanalah, di bawah ranting-ranting *sakura* yang berjatuhan seperti air mata dewa, pertama kali mataku terpaut pada Ling Wei. Ia bagai lukisan yang hidup, tinta hitam rambutnya menari di punggungnya seperti sungai malam, bibirnya semerah *vermilion*, menyimpan rahasia yang tak terucapkan. Namun, takdir—ah, dewa yang kejam—membuat garis tak terlihat antara kita. Ia adalah putri dari Klan Naga Hitam, musuh bebuyutan Klan Bangau Putih, tempat darahku mengalir. *Perang* adalah lagu pengantar tidurku, dendam adalah air susuku. Lalu, pernikahan itu diumumkan. Ling Wei dinikahkan dengan pewaris Klan Bangau Putih, *AKU*. Hari itu, jantungku berdebar seperti sayap burung yang terperangkap. Gaun merah menyalanya berkilau di bawah cahaya lentera, setiap langkahnya adalah simfoni kematian bagi harapan. Di altar yang dingin, di hadapan leluhur yang bisu, kami mengucapkan janji yang hampa. Malam pertama berlalu seperti mimpi buruk yang panjang. Kamar pengantin dihias dengan lilin merah, tetapi hatiku gelap gulita. Ia duduk di tepi ranjang, membelakangiku, bahunya bergetar halus. Aku ingin mendekat, memeluknya, menghapus dukanya, tapi dinding kebencian terlalu tinggi, terlalu tebal. Hari-hari berlalu dalam sunyi. Kami berbagi atap, berbagi makanan, bahkan berbagi ranjang, tapi kami *tak* pernah benar-benar bersama. Aku melihatnya melukis, kuasnya menari di atas sutra, menciptakan dunia yang tak bisa kuraih. Aku mencuri pandang padanya saat ia membaca puisi, suaranya bagai *melodi* yang menyayat kalbu. Aku mencium udara yang sama dengannya, udara yang mengandung aroma *melati* dan penyesalan, udara yang *NYARIS* menyatukan kami. Di tengah malam yang sunyi, aku sering terbangun, mendengar isaknya. Aku tahu, jauh di lubuk hatiku, ia merasakan hal yang sama. Cinta terlarang, cinta yang membakar jiwa, cinta yang hanya bisa hidup dalam dimensi waktu yang terlupakan. Lalu, suatu hari, aku menemukan lukisan yang disembunyikannya. Itu adalah potretku, dilukis dengan begitu detail, begitu penuh cinta, hingga aku *merasakan* tatapannya di kulitku. Di sudut lukisan itu, tertulis dalam aksara kecil: *"Hanya dalam mimpi, kita bisa bersama."* Dan kemudian, *PENGUNGKAPAN* itu datang. Seorang pelayan, yang telah lama mengabdi pada keluargaku, mengaku. Bahwa aku, bukan pewaris Klan Bangau Putih. Bahwa aku adalah anak haram, dikirim ke sana sebagai pion dalam permainan licik, untuk memicu perang abadi. Ling Wei *TAHU*. Ia tahu sejak awal. Pernikahan ini bukan untuk mempererat persahabatan, melainkan untuk mempermalukan Klan Naga Hitam, untuk menjatuhkan mereka. Ia menikahiku, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai *korban*, untuk melindungiku. Kebencian berubah menjadi *KEKAGUMAN*, dan kekaguman menjadi *KEPUTUSASAAN*. Cinta yang begitu indah, begitu murni, begitu *tidak mungkin*. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca, bibirnya berbisik lirih, “*Dulu, aku pernah melihatmu di taman rahasia, saat kau masih kecil, memetik bunga plum…*"
You Might Also Like: Perbedaan Pelembab Lokal Untuk Kulit

Post a Comment