Cerita Populer: Cinta Yang Mati Di Tepi Takdir

Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya dracin, bernuansa lirih dan penuh penyesalan: **Cinta yang Mati di Tepi Takdir** Lembayung senja meredup di balik paviliun Danau Seribu Angsa. Jemariku, yang dulu lincah menari di atas dawai *guqin*, kini kaku memegang cangkir porselen. Teh melati yang panas terasa hambar di lidah. Sudah lima tahun sejak malam itu. Lima tahun sejak ***dia*** mengkhianati janji di bawah rembulan yang sama. Namanya adalah Li Wei. Dulu, kami bagai sepasang burung mandarin yang tak terpisahkan. Impian kami adalah membangun sebuah akademi seni, tempat melestarikan keindahan kaligrafi dan melodi *guqin*. Tapi Li Wei, dengan ambisi yang membara, lebih memilih menjadi *selir kesayangan* Pangeran Kedua. Aku memilih DIAM. Bukan karena lemah. Bukan karena aku tak mampu membalas. Tapi karena aku tahu, ada rahasia yang lebih besar yang harus kulindungi. Sebuah rahasia yang bisa mengguncang kekaisaran. Sebuah rahasia tentang garis keturunan Pangeran Kedua… yang ternyata bukan garis keturunan kaisar. Setiap malam, alunan *guqin*-ku menjadi saksi bisu. Melodi yang dulunya ceria, kini bernada sendu, menyayat hati. Aku melihatnya, Li Wei, di kejauhan. Dia memakai gaun sutra berwarna *merah delima*, tertawa bersama sang pangeran. Tapi matanya, sesekali mencuri pandang ke arahku. Ada rasa bersalah di sana, tersembunyi di balik kilau perhiasan. Misteri kecil mulai bermunculan. Surat-surat rahasia yang beredar di kalangan istana. Bisikan-bisikan tentang perebutan kekuasaan. Dan kematian yang *misterius* dari beberapa pejabat tinggi. Aku tahu, semua ini berhubungan dengan rahasia yang kusimpan. Takdir memang penuh ironi. Pangeran Kedua, yang dulunya berkuasa, kini jatuh dari tahta. Skandal perselingkuhannya dengan selir kesayangan, Li Wei, terbongkar. Lebih buruk lagi, kebenaran tentang garis keturunannya terungkap ke publik. Ia diasingkan, kehilangan segalanya. Li Wei, yang dulunya bermandikan kemewahan, kini hidup dalam *penyesalan* yang mendalam. Aku melihatnya sekali lagi. Di tepi Danau Seribu Angsa. Dia berjalan dengan lunglai, bayangan dirinya yang dulu. Matanya kosong, tanpa air mata. Aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya membiarkan takdir bekerja. *Takdir yang berbalik arah*, dengan pahit namun indah. Balas dendamku bukan dengan pedang atau racun. Melainkan dengan kebenaran yang terungkap, dengan konsekuensi yang harus mereka tanggung. Dia berhenti di dekatku. Menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu, dia menghela napas pelan. "Dulu, aku pikir aku memilih jalan yang benar," bisiknya, nyaris tak terdengar. "Tapi ternyata…" Dia tak menyelesaikan kalimatnya. Dia berbalik, dan berjalan menjauh, menghilang di balik kabut senja. Aku hanya bisa menatap punggungnya, dan membayangkan penyesalan yang akan menghantuinya seumur hidup. Mungkin, ini adalah akhir yang pantas untuk cinta yang mati di tepi takdir… …Dan mungkin, ada harga yang lebih mahal yang harus kubayar, karena memilih diam.
You Might Also Like: Uncovering Secret Of Dogs Uvulas

OlderNewest

Post a Comment