Oke, ini dia kisah pendek yang saya rancang: **Senyum yang Mati di Balik Tirai Putih** Hujan menggigil di luar jendela paviliun. Rintiknya menari-nari di kaca, menciptakan ilusi bayangan yang patah. Di dalam, aroma dupa cendana memenuhi ruangan, menyembunyikan bau obat pahit yang menguar dari mangkuk porselen di meja. Mei Lan menyesap tehnya, matanya redup seperti cahaya lentera yang nyaris padam. Dulu, paviliun ini adalah saksi bisu tawa mereka. Dia dan Li Wei, sepasang kekasih yang saling berjanji di bawah pohon sakura yang mekar. Sekarang, hanya ada kesunyian yang mengiris hati, dan tatapan dingin yang mereka bagi. Li Wei berdiri di ambang pintu, bayangannya menjulang tinggi, gelap dan mengancam. "Mei Lan," ucapnya pelan, suaranya serak. "Kita perlu bicara." Mei Lan tidak menjawab. Dia tahu apa yang akan dibicarakan Li Wei. **PENGKHIANATAN.** Kata itu menggantung di udara, berat seperti batu. Lima tahun lalu, Li Wei meninggalkannya demi wanita lain, seorang putri dari keluarga terpandang. Dia menikahi wanita itu demi kekuasaan, demi ambisi. Mei Lan hancur. "Aku tahu kau masih marah," lanjut Li Wei, mendekat. "Tapi aku bisa menjelaskan…" Mei Lan tertawa hambar. "Penjelasan? Apakah ada kata yang bisa menghapus air mata, Li Wei? Apakah ada kata yang bisa mengembalikan hatiku yang kau remukkan?" Li Wei terdiam. Dia melihat perubahan dalam diri Mei Lan. Dulu, matanya berbinar penuh cinta. Sekarang, hanya ada kekosongan dan… sesuatu yang lain. Sesuatu yang dingin. "Aku sakit, Li Wei," kata Mei Lan, suaranya nyaris berbisik. "Sakit yang tidak bisa disembuhkan." Li Wei berlutut di hadapannya, meraih tangannya. "Maafkan aku, Mei Lan. Kumohon." Mei Lan menarik tangannya. Sentuhan Li Wei terasa seperti bara api yang membakar kulitnya. "Terlalu terlambat, Li Wei. Terlalu terlambat untuk segalanya." Malam itu, hujan semakin deras. Guntur menggelegar membelah langit. Li Wei terbangun dari tidurnya, merasakan ada yang aneh. Dia mendapati Mei Lan berdiri di samping tempat tidurnya, memegang sebilah pisau perak. Matanya berkilat liar. "Kau tahu, Li Wei," bisik Mei Lan, senyum mengerikan tersungging di bibirnya. "Sejak kau menghancurkan hidupku, aku merencanakan ini. Setiap obat pahit yang kau minum, setiap ramuan yang kuracik… semuanya untukmu." Li Wei mencoba bangkit, tapi tubuhnya terasa lemah tak berdaya. Dia menatap Mei Lan dengan ngeri. "Kau bertanya-tanya mengapa aku begitu tenang? Mengapa aku tidak melawan? Karena aku tahu… **racun itu bukan hanya untukmu, tapi juga untuk rahasia kelam yang selama ini kau sembunyikan, rahasia tentang siapa dalang di balik kematian ayahku."**
You Might Also Like: 176 Latino Emerging Ecological Students

Post a Comment