Cerpen Seru: Ia Melihatku Online, Tapi Tak Pernah Menyapa

**Ia Melihatku Online, Tapi Tak Pernah Menyapa** Hujan gerimis menari di jendela apartemenku, persis seperti melodi melankolis yang kurasakan di dalam hati. Di layar laptop, *dia* ada. Bulatan hijau kecil, simbol bahwa ia sedang online, menyala terang di samping namanya. Li Wei. Nama yang dulunya terasa seperti mantra kebahagiaan, kini bagai duri yang menusuk setiap kali kuucapkan dalam hati. Lima tahun. Lima tahun berlalu sejak malam itu. Malam di bawah taburan bintang di tepi Danau Xihu, saat ia berjanji akan selalu menjadi matahariku, pelindungku, *selamanya*. Janji yang menguap bersama kabut pagi, digantikan berita pernikahannya dengan putri seorang konglomerat. Sebuah berita yang disampaikan dengan dingin oleh asistennya, tanpa setitik pun penyesalan. Aku hancur. Berkeping-keping seperti kaca yang terhempas ke lantai. Aku meninggalkan Hangzhou, melarikan diri dari bayang-bayang kenangan yang terlalu indah untuk dilupakan, namun terlalu menyakitkan untuk dihadapi. Dan kini, di sini, di Jakarta, aku telah membangun kembali hidupku. Aku adalah seorang pengacara sukses, yang disegani dan ditakuti di ruang sidang. Aku belajar menutup diri, menyembunyikan kerapuhan di balik senyum profesional dan tatapan tajam. Tapi *kenapa*, di antara ratusan kontak di daftar pertemananku, mataku selalu tertuju padanya? Hari ini, jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya. Ia online. Ia selalu online. Tapi ia tidak pernah menyapa. Tidak pernah menanyakan kabarku. Tidak pernah meminta maaf. Dulu, aku akan meratap, menahan air mata, dan bertanya pada diriku sendiri: *Salahku apa?* Kini, aku hanya menatap layar, bibirku membentuk senyum tipis yang *dingin*. Proyek *besar* yang sedang kutangani kebetulan melibatkan perusahaannya. Merger raksasa yang akan melipatgandakan kekayaanku, sekaligus membuat aset perusahaannya merosot tajam. Informasi yang kupunya sangat *sensitif*. Aku tahu kelemahan mereka, titik buta mereka, segala rahasia kotor yang mereka sembunyikan di balik fasad kemewahan. Aku bisa saja mundur. Melepaskan kesempatan emas ini. Memaafkannya. Mungkin. Tapi kemudian, aku teringat malam di tepi Danau Xihu. Teringat janjinya yang dusta. Teringat tatapannya yang *menipu*. Jari-jariku menari di atas keyboard, mengetik email penting yang akan mengubah segalanya. Aku mengaktifkan mode *anonim* dan mengirimkannya. Hujan semakin deras. Di kejauhan, suara petir menggelegar. Apakah ini *balas dendam*? Atau hanya keadilan yang menemukan jalannya sendiri? Aku tidak tahu. Yang kutahu pasti, esok hari, dunia Li Wei akan runtuh. Dan aku akan berdiri di sana, menyaksikan kehancurannya dengan senyum yang *terukir* di bibirku. Mungkin *ini* adalah caraku untuk akhirnya mengucapkan selamat tinggal, atau mungkin juga aku baru saja memulai babak baru dalam drama panjang yang bernama: *Cinta dan Kebencian*.
You Might Also Like: 133 Rahasia Paket Skincare Lokal Harga

Post a Comment