Baiklah, ini dia, kisah dracin modern dengan judul "Kau Datang dengan Dendam, Tapi Pergi dengan Air Mata": **Kau Datang dengan Dendam, Tapi Pergi dengan Air Mata** Hujan kota selalu membawanya kembali. Aroma kopi robusta yang menyengat, denting notifikasi di ponselku, dan bayangan wajahmu yang menghantui setiap sudut kamar. Kau datang seperti badai petir, **menghancurkan** ketenangan hidupku yang terencana. Awalnya, hanya deretan *retweet* dan *mention* sarkastik di Twitter. Lalu, percakapan panjang di Telegram, membahas teori konspirasi aneh dan musik indie yang kita berdua sukai. Tawa kita, yang awalnya sinis, lama kelamaan menjadi renyah dan tulus. Aku tak tahu kapan tepatnya, namun di antara emoji hati dan stiker kucing menggemaskan, dendammu mulai luntur. Kita bertemu di sebuah kafe kecil di bilangan Senopati. Kau duduk di seberangku, matamu *gelap* dan penuh misteri. Kau menceritakan tentang ayahmu, tentang bisnis yang hancur karena perbuatan keluargaku. Dendam membara dalam nadamu, namun aku melihat ada kesedihan yang tersembunyi di balik tatapanmu. Hari demi hari, aku jatuh lebih dalam. Pesan singkat tengah malam, panggilan video yang tak terduga, dan sentuhan tangan yang terasa seperti *sengatan listrik*. Kita menjelajahi Jakarta dengan motor bututmu, tertawa di tengah kemacetan, dan berdebat tentang film favorit. Kau membuatku merasa hidup, merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Namun, ada yang aneh. Kau selalu menghindar saat aku bertanya tentang masa lalumu. Ponselmu selalu berdering, namun kau selalu menolak panggilan itu. Ada rahasia yang kau simpan rapat-rapat, dan aku bisa merasakannya. Kemudian, semuanya runtuh. Aku menemukan foto ayahmu dan ayahku sedang berjabat tangan, tersenyum lebar. Di bawahnya, tertulis tanggal pernikahan mereka. Ternyata, ayahmu adalah *adik* ayahku. Kau dan aku... sepupu. Dunia seolah berhenti berputar. Aku mencoba menghubungimu, namun semua panggilan dan pesanku tak terjawab. Kau menghilang begitu saja, meninggalkan aku dengan *sisa chat yang tak terkirim* dan kenangan yang tak mungkin bisa dihapus. Aku mencoba mencari jawaban, namun semua orang bungkam. Berbulan-bulan berlalu. Aku mencoba melupakanmu, namun percuma. Setiap kali hujan turun, setiap kali aku mencium aroma kopi robusta, aku selalu teringat padamu. Aku tahu kau ada di suatu tempat, mungkin sedang merencanakan balas dendam yang lebih kejam. Suatu malam, aku menerima sebuah paket. Di dalamnya, ada sebuah *flash drive*. Aku mencolokkannya ke laptopku dan menemukan sebuah video. Di video itu, kau berdiri di depan kamera, matamu berkaca-kaca. "Aku tahu kau akan menemukan ini," kau berkata dengan suara bergetar. "Aku tahu hubungan kita salah. Aku datang dengan dendam, tapi aku tidak bisa menyakitimu. Aku mencintaimu, lebih dari yang bisa kubayangkan. Maafkan aku." Di akhir video, kau tersenyum. Senyum yang sama yang membuatku jatuh cinta padamu. Lalu, layar menjadi hitam. Balas dendamku? Bukan teriakan atau makian. Bukan amarah atau air mata. Hanya sebuah pesan singkat yang kuketik dengan jemari gemetar: "Aku tahu." Lalu, aku menghapus nomor teleponmu dan memblokir semua akun media sosialmu. Aku tahu, di suatu tempat, kau pasti merasakannya. *Itu cukup*. Dan dengan itu, aku menutup laptop, membiarkan layar menatapku dengan hampa. Sekarang, giliranmu yang merasakan sakitnya kehilangan. *Tapi, benarkah ini akhirnya?*
You Might Also Like: 66 Tips Moisturizer Lokal Dengan Aloe
Post a Comment