Baiklah, inilah kisah puitis bergaya dracin klasik berjudul 'Air Mata yang Menjadi Embun Pagi' dalam bahasa Indonesia: **Air Mata yang Menjadi Embun Pagi** Di antara bukit-bukit yang diselimuti kabut *abadi*, di sebuah lembah yang dilukis dengan warna senja yang tak pernah pudar, berdirilah Paviliun Anggrek yang kesepian. Di sanalah, Lady Yue, sang pemilik mata *seindah rembulan*, merajut hari-harinya dalam kesendirian yang memilukan. Setiap pagi, ketika embun menggelayuti kelopak-kelopak mawar seperti *air mata dewi*, Lady Yue akan duduk di tepi danau zamrud. Bayangan wajahnya, terpantul di permukaan air yang tenang, tampak begitu rapuh, seolah disentuh sedikit saja akan pecah berkeping-keping. Ia menunggu. Menunggu seseorang yang hanya hadir dalam mimpinya, seorang pangeran dari dinasti yang terlupakan, Pangeran Zhao. Sosoknya, tergambar jelas dalam ingatan Lady Yue: jubah sutra berwarna langit senja, senyum *setajam pedang tapi semanis madu*, dan mata yang menyimpan seluruh bintang di angkasa. Pertemuan mereka, bukan di dunia nyata, melainkan di dalam lukisan gulungan kuno yang ditemukan Lady Yue di loteng berdebu. Setiap kali Lady Yue menyentuh lukisan itu, ia akan terhisap ke dalam dimensi waktu yang berbeda, dimensi di mana Pangeran Zhao menunggunya di taman bunga persik yang *bersemi abadi*. Cinta mereka mekar di taman itu, di bawah naungan pohon persik yang bunganya berjatuhan seperti salju di musim semi. Mereka berdansa di bawah sinar rembulan yang *pucat*, bertukar janji yang terukir di hati, bukan di batu. Namun, kebahagiaan itu selalu terasa begitu *rapuh*, seperti gelembung sabun yang akan pecah kapan saja. Setiap kali Lady Yue terbangun, ia akan menemukan dirinya kembali di Paviliun Anggrek, sendirian, hanya ditemani lukisan gulungan dan kerinduan yang membakar jiwa. Apakah Pangeran Zhao nyata? Apakah taman bunga persik itu benar-benar ada? Lady Yue tak pernah tahu. Ia hanya tahu satu hal: *cinta itu terasa begitu nyata*, begitu *kuat*, sehingga ia rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk menunggunya. Suatu malam, ketika badai mengamuk dan petir menyambar-nyambar, lukisan gulungan itu jatuh dari dinding. Lady Yue, dengan hati berdebar, memungutnya. Saat itulah, ia menemukan sebuah prasasti tersembunyi di balik lukisan itu: *"Lady Yue, kau adalah reinkarnasi dari Putri Zhao, tunanganku yang hilang. Taman bunga persik itu bukan dimensi lain, melainkan kenangan masa lalu kita. Aku… aku menunggu di sini, di dalam lukisan ini, sampai kau mengingat semuanya."* *Air mata* Lady Yue mengalir deras, membasahi lukisan itu. *Rasa sakitnya* begitu *mendalam*, begitu *menghancurkan*. Ia telah menemukan kebenaran, tetapi kebenaran itu justru menghancurkan harapannya. Cintanya nyata, namun terkurung dalam masa lalu yang tak mungkin diraih. Di tengah badai yang mengamuk, Lady Yue menghilang, meninggalkan Paviliun Anggrek yang kosong. Konon, ia kembali ke taman bunga persik dalam lukisan itu, *terjebak selamanya* dalam kenangan yang manis namun pahit. … *Dulu, di musim semi yang berdarah, kau berjanji akan kembali.*
You Might Also Like: Drama Seru Bayangan Yang Mengkhianati
Post a Comment