Cerpen Terbaru: Senyum Yang Tumbuh Di Atas Luka

Baik, mari kita coba merangkai kisah dracin tragis berjudul 'Senyum yang Tumbuh di Atas Luka' dengan elemen-elemen yang Anda minta: **Senyum yang Tumbuh di Atas Luka** Hujan abu mewarnai langit Chang'an. Di tengah hiruk pikuk pasar, Mei dan Lian bagai dua kuntum *plum blossom* yang tumbuh dari satu tangkai. Sejak kecil, mereka bersama. Mei, si sulung dengan senyum secerah mentari pagi, selalu melindungi Lian, sang adik yang menyimpan rahasia di balik tatapan mata kelamnya. Mereka bukan saudara kandung, bukan pula sahabat biasa, melainkan dua srikandi yang terikat sumpah setia di kuil kuno, di bawah *BAYANGAN* pohon bambu yang menjulang. "Lian, ingatlah," bisik Mei suatu senja, saat mereka menatap matahari terbenam dari atas bukit. "Janji kita lebih kuat dari darah. Tak ada yang bisa memisahkannya." Lian hanya tersenyum tipis, senyum yang tak pernah sampai ke matanya. "Tentu saja, *Gege* (Kakak)." Bertahun-tahun berlalu. Mei menjadi jenderal kebanggaan kerajaan, namanya tertulis dalam setiap kemenangan. Lian, dengan kecerdasannya yang memukau, menjadi penasihat terpercaya Kaisar. Di balik kemegahan istana, intrik dan pengkhianatan merajalela. Bisikan-bisikan *BERBISA* merayap di setiap sudut, menebar keraguan dan kecurigaan. Suatu malam, Mei dipanggil menghadap Kaisar. Tuduhan pengkhianatan dilontarkan. Bukti-bukti palsu menumpuk, menudingnya bersekongkol dengan musuh. Mei terkejut, hatinya bagai *DIROBEK*. Siapa yang tega mengkhianatinya? "Siapa yang menuduhku?" tanya Mei dengan suara bergetar. Kaisar hanya menunjuk ke arah Lian, yang berdiri tegak di sampingnya, wajahnya tanpa ekspresi. "Lian?" gumam Mei tak percaya. Lian menatap Mei, senyum tipis kembali menghiasi bibirnya. "Demi *KEJAYAAN* kerajaan, *Gege*." Mei merasakan dunia runtuh di sekelilingnya. Janji yang mereka ikrarkan di bawah pohon bambu, semua lenyap bagai asap. Ia dijebloskan ke penjara bawah tanah, menunggu hukuman mati. Setiap malam, Lian mengunjunginya. "Mengapa, Lian? Mengapa kau melakukan ini?" tanya Mei dengan suara serak. "Kau terlalu kuat, *Gege*. Kau menjadi ancaman bagi kekuasaan Kaisar. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan," jawab Lian dengan dingin. "Kau…kau yang membunuh ayah angkat kita, bukan?" tanya Mei tiba-tiba, matanya memancarkan *AMARAH* yang membara. Rahasia yang selama ini terkubur dalam, akhirnya terungkap. Lian terdiam. Senyumnya menghilang, digantikan raut wajah yang sulit diartikan. "Dia…dia terlalu banyak tahu." Malam eksekusi tiba. Mei dibawa ke hadapan algojo. Saat pedang diangkat tinggi-tinggi, Lian berdiri di antara kerumunan, tatapannya terkunci pada Mei. "Selamat tinggal, *Gege*," bisik Lian pelan, nyaris tak terdengar. Pedang menebas. Kepala Mei menggelinding di tanah. Sebelum kegelapan menelan segalanya, Mei menatap Lian, matanya dipenuhi kekecewaan dan *PENGKHIANATAN*. Beberapa tahun kemudian, Lian menjadi Kaisar. Kekuasaannya tak tertandingi, namun ia tak pernah bisa melupakan Mei. Setiap malam, bayangan Mei menghantuinya. Ia tahu, balas dendam akan datang. Suatu hari, seorang pemuda dengan wajah yang sangat mirip Mei muncul di istana. Ia mengaku sebagai putra Mei, yang disembunyikan selama ini. Pemuda itu mendekati Lian, menebar pesona dan kepercayaan. Lian terlena, tak menyadari bahwa ia sedang dijebak. Di malam penobatan Lian sebagai Kaisar Abadi, pemuda itu mengungkap jati dirinya. Ia adalah putra Mei, yang dilatih sejak kecil untuk membalaskan dendam ayahnya. Pertempuran sengit terjadi. Istana berlumuran darah. Di akhir pertarungan, Lian terbaring lemah di pelukan putra Mei, pedang menancap di dadanya. "Kau… selalu… menjadi… bayanganku," bisik Lian sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. *Mungkin, di kehidupan lain, kita bisa menjadi saudara sejati.*
You Might Also Like: 193 Dots Assorted Gummy Candy Pieces

OlderNewest

Post a Comment