Bulan purnama menggantung di atas Danau Bulan Sabit, memantulkan wajah Li Wei dan Zhao Yunlan. Mereka berdiri bahu-membahu, siluet mereka nyaris menyatu dalam kegelapan. Sejak kecil, danau inilah saksi bisu persahabatan mereka, ikatan yang mereka yakini sekuat baja. Namun malam ini, aroma kebohongan menguar lebih pekat dari aroma melati di taman.
"Yunlan," suara Li Wei bagai desiran angin, "Kau ingat janji kita di bawah pohon pinus dulu?"
Yunlan, dengan senyum yang tak sampai ke mata, menjawab, "Tentu, Wei. Janji untuk saling melindungi, selamanya." Senyum itu… dingin. MENGERIKAN.
Mereka bukan hanya teman. Mereka bersaudara sepersusuan, dibesarkan oleh ibu yang sama – wanita yang kini hanya tinggal kenangan pedih. Namun, ada RAHASIA yang membelenggu mereka, RAHASIA yang tersembunyi di balik senyum dan persahabatan palsu.
Sejak awal, Li Wei merasa ada yang ganjil. Kekayaan keluarga Zhao melonjak pesat setelah kematian ibunda mereka. Bisik-bisik sampai ke telinganya: warisan ibunda, yang seharusnya dibagi rata, hanya dinikmati oleh Zhao Yunlan. Li Wei menyimpan curiga itu, memendamnya dalam diam, mengasah kesabarannya bagai sebilah pedang.
Bertahun-tahun berlalu. Zhao Yunlan menjelma menjadi taipan muda yang berkuasa, dikelilingi kemewahan dan kekuasaan. Li Wei, di sisi lain, memilih jalan seorang tabib, mengabdikan diri pada rakyat jelata. Tapi matanya tak pernah lepas dari Yunlan, mengamati setiap gerak-geriknya, mencari celah dalam topeng kesempurnaan itu.
"Wei," kata Yunlan suatu sore, mengajak Li Wei minum teh di Paviliun Anggrek. "Aku selalu menganggapmu seperti saudaraku sendiri. Apa kau… bahagia?"
Li Wei menyesap tehnya perlahan. "Bahagia? Kebahagiaan itu relatif, Yunlan. Tergantung apa yang kau korbankan untuk mendapatkannya." Setiap kata bagai anak panah yang dilepaskan dengan tenang, namun mematikan.
Misteri itu mulai terkuak saat Li Wei menemukan sebuah kotak kayu usang di loteng rumah ibunda mereka. Di dalamnya, terdapat surat-surat ibunda dan sebuah buku catatan yang berisi KEBENARAN MENGEJUTKAN. Ibunda mereka sebenarnya menikah dengan ayah Zhao Yunlan sebelum melahirkan Li Wei. Zhao Yunlan BUKAN saudara sepersusuan Li Wei. Dia adalah… saudara tiri yang serakah. Dan warisan itu, seharusnya sepenuhnya milik Li Wei.
Pengkhianatan itu menghantam Li Wei bagai gelombang tsunami. Amarah membakar hatinya, melenyapkan semua sisa persahabatan palsu. Dia tahu, hanya ada satu jalan keluar: BALAS DENDAM.
Malam itu, Li Wei menemui Yunlan di tepi Danau Bulan Sabit. Bulan purnama bersinar terang, menerangi wajah Yunlan yang kini tampak pucat.
"Yunlan," kata Li Wei dengan suara bergetar, "Aku tahu semuanya."
Yunlan terdiam. Matanya memancarkan ketakutan yang selama ini tersembunyi di balik topeng kekuasaan. "Apa… apa yang kau bicarakan, Wei?"
Li Wei mengeluarkan kotak kayu dari balik jubahnya. "Semuanya ada di sini. Kebohonganmu, keserakahanmu, dan PENGKHIANATANMU!"
Yunlan mencoba merebut kotak itu, tapi Li Wei lebih cepat. Ia mendorong Yunlan hingga terjatuh ke danau.
"Kau… kau membunuhku?" Yunlan berjuang untuk bernapas, air danau membasahi wajahnya.
Li Wei berjongkok di tepi danau, menatap Yunlan dengan tatapan dingin. "Bukan aku yang membunuhmu, Yunlan. Kebenaran yang membunuhmu."
Yunlan terbatuk, berusaha mengatakan sesuatu. "Wei… aku… selalu…"
Li Wei berdiri. Tangisan yang selama ini ia pendam akhirnya pecah, menjadi lagu tenang yang mengiringi kematian Zhao Yunlan.
"Aku selalu… iri padamu, Wei."
You Might Also Like: 37 Original Painting For Sale Adelaide
Post a Comment