Endingnya Gini! Bayangan Yang Mengkhianati Surga

Hujan kota Seoul jatuh seperti air mata yang tak terhitung jumlahnya, membasahi layar ponselku. Setiap tetesnya adalah echo dari malam itu, malam ketika janji-janji menguap bersama asap rokok dan deru mobil. Aplikasi kencan, tempat aku bertemu dengannya, kini hanya menampilkan notifikasi usang dan foto profil orang asing. Dulu, aplikasi itu adalah jembatan menuju surga yang sementara, sekarang hanya kuburan bagi harapan yang mati.

Namanya, Jung Min, terasa seperti mantra yang kehilangan daya. Aroma kopi, yang dulu selalu mengingatkanku pada pertemuan pertama kami di kafe sudut kota, kini hanya pahit di lidah. Sisa chat yang tak terkirim memenuhi draft pesanku, kumpulan kata-kata yang tak pernah sampai padanya, seperti lagu yang tak pernah dinyanyikan. Kenangan tentang senyumnya, sentuhan tangannya, kini hanya bayangan yang menari-nari di pelupuk mata, menyiksa dengan keindahan yang hilang.

Aku tak mengerti. Semuanya terasa begitu nyata, begitu ABADI. Tapi kemudian, dia menghilang. Tanpa jejak, tanpa penjelasan. Seperti mimpi buruk yang terbangun begitu saja. Apa yang kulakukan salah? Apa yang kulewatkan? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui setiap detikku, meracuni pikiranku.

Aku mulai menyelidiki. Diam-diam. Aku mengorek masa lalunya dari teman-temannya, mantan rekan kerjanya, bahkan keluarganya. Setiap informasi yang kudapatkan hanya menambah kabut misteri. Ada yang disembunyikan. Ada RAHASIA yang terkubur dalam-dalam.

Kemudian aku menemukannya. Sebuah akun media sosial rahasia, dipenuhi foto-foto dirinya dengan seorang wanita. Wanita yang bukan aku. Wanita yang tertawa dengan tulus, wanita yang memegang tangannya dengan cinta. Wanita yang, jelas sekali, dicintainya.

Dunia runtuh. Rasanya seperti jantungku diremas hingga hancur. Semua janji, semua senyum, semua sentuhan... kebohongan! Aku hanyalah pelarian, pengisi kekosongan sementara, bayangan yang mengkhianati surga yang sebenarnya ia miliki.

Aku tidak berteriak. Aku tidak menangis. Kemarahan yang membara dalam diriku jauh lebih kuat dari air mata. Aku memutuskan untuk melakukan balas dendam. Bukan balas dendam yang keras, bukan balas dendam yang penuh amarah. Tapi balas dendam yang lembut, balas dendam yang meninggalkan luka yang lebih dalam dari sekadar goresan.

Aku mengiriminya pesan. Singkat. Padat. Bermakna. Pesan terakhir.

"Jung Min, aku tahu semuanya. Aku tahu tentang dia. Aku tahu tentang kebohonganmu. Aku tidak marah. Aku hanya... kecewa. Aku harap kau bahagia. Sungguh."

Aku memblokir nomornya. Aku menghapus semua fotonya. Aku membersihkan semua jejaknya dari hidupku. Aku berjalan menjauh dari kafe itu, dari aroma kopi yang kini terasa begitu pahit. Aku menatap hujan kota yang masih jatuh dengan deras, tapi kali ini, air mataku tidak jatuh bersamanya.

Aku tersenyum. Senyum dingin. Senyum yang mengisyaratkan akhir dari segalanya.

Dan aku membiarkan dia hidup dengan penyesalannya, dengan bayangan tentang apa yang mungkin terjadi jika dia jujur padaku. Karena, terkadang, diam adalah hukuman yang paling menyakitkan.

Aku membiarkannya bertanya-tanya selamanya, apakah senyum itu berarti aku sudah melupakannya, ataukah senyum itu adalah janjiku untuk menghantuinya... selamanya.

You Might Also Like: 0895403292432 Distributor Skincare

Post a Comment