Kisah Seru: Aku Menatap Langit Kota, Tapi Yang Kulihat Hanya Siluetmu

Aku Menatap Langit Kota, Tapi yang Kulihat Hanya Siluetmu

Hujan kota membasahi layar ponselku. Setiap tetesnya seolah mengetuk-ngetuk sisa chat yang tak terkirim, pesan-pesan hantu yang bergentayangan di antara barisan emoji dan stiker konyol. Aroma kopi dari cangkir yang mulai dingin tak mampu menghangatkan hatiku yang beku. Di antara notifikasi yang terus berdatangan, tak ada satu pun nama KAMU.

Dulu, setiap notifikasi darimu adalah lonceng kecil yang membangunkanku dari tidur siang yang membosankan. Dulu, setiap emoji yang kau kirim adalah senyum rahasia yang hanya kumengerti. Sekarang? Hanya ada sunyi yang memekakkan telinga.

Aku menatap langit kota. Gemerlap lampu-lampu gedung pencakar langit seharusnya indah, namun yang kulihat hanyalah siluetmu. Bayanganmu menari di antara awan kelabu, mengingatkanku pada malam-malam kita dulu. Malam-malam panjang yang diisi dengan mimpi-mimpi bodoh dan janji-janji yang kini terasa begitu palsu.

Kita bertemu di dunia maya, di antara meme dan thread panjang tentang teori konspirasi. Cintamu hadir seperti notifikasi tak terduga, mengejutkan namun menyenangkan. Kita membangun dunia kita sendiri di antara screenshot dan voice note. Dunia yang terasa begitu nyata, sampai akhirnya runtuh begitu saja.

Kehilangan ini… aneh. Ia tak seperti kehilangan yang berteriak-teriak. Ia lebih seperti rasa hampa yang merayap perlahan, menggerogoti setiap sudut hatiku. Seperti aroma kopi yang perlahan memudar, meninggalkan rasa pahit yang tertinggal di lidah.

Aku tahu, ada rahasia di balik kepergianmu. Sesuatu yang tak pernah kau ceritakan. Sesuatu yang terkubur di antara sisa playlist kita, di antara foto-foto usang di cloud. Sesuatu yang… mematikan.

Akhirnya, aku menemukannya. Sebuah pesan singkat yang terhapus, sebuah foto samar di ponsel lamamu, sebuah nama yang asing namun terasa begitu familiar. Rahasia itu terkuak seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Kau bukan milikku. Kau tidak pernah menjadi milikku.

Balas dendam lembutku sederhana:

Aku menghapus nomor ponselmu. Aku memblokir semua akun media sosialmu. Aku menghapus semua foto kita. Aku menghapus semua lagu yang mengingatkanku padamu. Aku menghapus semua kenangan tentangmu… atau setidaknya, aku mencoba.

Kemudian, aku mengirimkanmu pesan terakhir. Bukan makian. Bukan tangisan. Hanya sebuah foto. Foto diriku, tersenyum. Senyum yang lebar, senyum yang tulus, senyum yang bebas.

Lalu, aku mematikan ponselku.

Dunia terasa sunyi. Kosong. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa… utuh.

Dan di tengah keheningan itu, aku bertanya-tanya, "Apa yang akan kulakukan esok hari?"

You Might Also Like: Distributor Kosmetik Usaha Sampingan

OlderNewest

Post a Comment