Drama Abiss! Kau Pergi Tanpa Pamit, Tapi Meninggalkan Kemejaku Dengan Air Mata

Kau Pergi Tanpa Pamit, Tapi Meninggalkan Kemejaku dengan Air Mata

Dulu, di bawah langit Shanghai yang kelabu, kami tumbuh bersama. Aku, Lin Wei, dan dia, Zhang Lei. Saudara seperguruan, sahabat sejati, dan… entahlah, mungkin lebih dari itu. Kami berbagi mimpi, rahasia, dan bahkan luka yang sama. Kami berjanji akan menaklukkan dunia persilatan bersama, bahu membahu, tak terpisahkan.

Namun, takdir adalah benang kusut yang penuh kejutan.

"Wei," bisiknya suatu malam, di bawah rembulan pucat. "Ada sesuatu yang harus kukatakan."

Matanya, sekelam obsidian, menyimpan badai yang tersembunyi. Aku tahu, ada sesuatu yang salah. Getaran halus dalam suaranya, senyumnya yang dipaksakan… semuanya BERBEDA.

"Katakan saja, Lei," jawabku, berusaha tenang. "Kau tahu kau bisa mempercayaiku."

Dia menghela napas panjang. "Aku… aku harus pergi."

Pergi? Kemana? Mengapa? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku seperti tornado. Tapi, sebelum aku sempat bertanya, dia melanjutkan.

"Ada tugas yang harus kulakukan. Sesuatu yang… WAJIB kulakukan."

"Tugas? Tugas apa yang lebih penting dari persahabatan kita? Dari janji kita?"

Senyum pahit menghiasi bibirnya. "Itu… rumit, Wei. Terlalu rumit untuk dijelaskan."

Dia pergi keesokan harinya, tanpa pamit. Meninggalkan aku dengan kemejanya yang berlumuran air mata. Kemeja itu, yang seharusnya menjadi saksi persahabatan kami, kini menjadi simbol pengkhianatan.

Bertahun-tahun berlalu. Aku mengasah pedang, memperkuat diri, mencari kebenaran di balik kepergiannya. Aku mendengar bisikan-bisikan tentang Zhang Lei. Tentang bagaimana dia menjadi tangan kanan seorang pemimpin sekte sesat, tentang bagaimana dia mengkhianati semua yang pernah kami perjuangkan.

Setiap bisikan itu menusuk hatiku seperti duri. Apakah benar dia mengkhianatiku? Mengkhianati kita semua?

Akhirnya, takdir mempertemukan kami kembali. Di tengah badai salju, di puncak gunung yang membeku, kami berdiri berhadapan. Zhang Lei, dengan mata yang dingin dan pedang yang berlumuran darah.

"Wei," ucapnya, suaranya datar. "Sudah lama."

"Lei," balasku, nadaku dipenuhi amarah dan kekecewaan. "Mengapa? Mengapa kau melakukan ini?"

"Aku tidak punya pilihan," jawabnya. "Kau tidak akan mengerti."

"Tidak mengerti? Atau kau tidak ingin aku mengerti?" Aku menarik pedangku. "Katakan padaku, Lei. Siapa yang kau lindungi? Siapa yang kau khianati?"

Pertarungan kami dimulai. Pedang berdenting, es beterbangan, dan amarah membara di dada kami. Setiap tebasan pedang adalah pertanyaan, setiap tangkisan adalah jawaban yang menyakitkan.

Di tengah pertarungan, kebenaran terungkap. Rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat.

Ternyata, Zhang Lei adalah putra dari pemimpin sekte sesat yang telah membunuh kedua orang tuaku. Dia telah mengabdikan dirinya pada sekte itu untuk membalaskan dendam. Dan aku… aku adalah keturunan dari orang yang telah membunuh ayahnya.

Kami berdua hanyalah PAWON dalam permainan yang lebih besar. Korban dari dendam yang telah berlangsung turun-temurun.

"Aku… aku tidak pernah ingin menyakitimu, Wei," ucapnya, terengah-engah, setelah pedangku menembus dadanya. "Tapi aku… HARUS."

Air mata mengalir di pipiku. Aku telah kehilangan sahabatku, saudaraku, dan mungkin… cintaku.

"Dendam… adalah racun," bisikku, sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya.

Kebenaran yang menyakitkan telah terungkap. Tapi, balas dendamku tak terhindarkan. Aku akan menghancurkan sekte sesat itu, membalaskan dendam keluargaku, dan membebaskan dunia dari kegelapan.

Aku menatap mayat Zhang Lei, kemejanya yang berlumuran darah. Kemeja yang dulu menjadi simbol persahabatan, kini menjadi simbol pengkhianatan dan pengorbanan.

Sebelum aku pergi, aku berbisik, "Maafkan aku, Lei. Aku harap… kau bisa memaafkanku di kehidupan selanjutnya."

Aku berbalik, meninggalkan mayatnya di tengah badai salju. Meninggalkan masa lalu yang pahit, dan menuju masa depan yang penuh dengan balas dendam dan kesedihan.

Aku akan menemui kalian semua… di neraka.

You Might Also Like: Cerita Populer Aku Mencintaimu Sampai

Post a Comment