Dracin Populer: Cinta Yang Terkunci Dalam Cermin

Cinta yang Terkunci Dalam Cermin

BAB I: Bunga Persik di Musim Gugur

Di kaki Gunung Tai, di sebuah desa yang dilukis dengan warna senja, berdirilah kedai teh sederhana bernama "Cermin Jiwa". Di sanalah, Lin Mei, seorang gadis dengan mata selembut mentari pagi, menyajikan teh setiap hari. Ia selalu merasa ada sesuatu yang hilang, sebuah melodi yang tak lengkap dalam hatinya.

Setiap musim gugur, pohon persik di halaman kedai selalu berbunga. Ini aneh, mengingat seharusnya mereka beristirahat. Bunga-bunga itu memancarkan aroma yang familiar, aroma yang membuatnya terisak tanpa alasan.

Suatu hari, seorang pria muda bernama Zhang Wei tiba di desa itu. Ia seorang pelukis yang mencari inspirasi. Saat mata mereka bertemu, waktu seolah berhenti. Ada getaran kuat, rasa DEJA VU yang tak terbantahkan. Lin Mei mendengar bisikan lirih di benaknya, sebuah nama yang asing namun terasa begitu dekat: "Yun Xi…".

BAB II: Gema Seratus Tahun

Zhang Wei merasakan hal yang sama. Mimpi-mimpi aneh menghantuinya setiap malam. Ia melihat dirinya sebagai seorang jenderal gagah berani, Yun Xi, yang bersumpah setia pada seorang putri cantik bernama Lin Mei. Namun, cinta mereka terlarang. Yun Xi dituduh berkhianat dan dieksekusi mati. Lin Mei, putus asa, berjanji akan menunggunya selama seratus tahun. Sebuah janji yang terikat oleh sumpah darah di bawah rembulan purnama.

Seiring berjalannya waktu, Zhang Wei mulai melukis. Lukisan-lukisannya seolah ditarik dari memori yang bukan miliknya. Ia melukis medan perang, istana megah, dan seorang putri yang meneteskan air mata. Lin Mei terpaku melihat lukisan-lukisan itu. Setiap detailnya terasa nyata, seperti potongan-potongan puzzle yang berusaha menyatu.

Di sebuah kuil kuno di puncak gunung, mereka menemukan sebuah cermin perunggu yang tersembunyi. Saat mereka menyentuh cermin itu bersamaan, kilatan cahaya menyilaukan menyelimuti mereka.

BAB III: Kebenaran yang Terungkap

Kilatan cahaya itu membawa mereka ke masa lalu. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri tragedi seratus tahun lalu. Yun Xi tidak berkhianat. Ia dijebak oleh seorang kasim licik yang mencintai Lin Mei secara obsesif. Kasim itu memalsukan bukti, menghasut kaisar, dan menghancurkan cinta Yun Xi dan Lin Mei.

Lin Mei masa lalu, dengan hati hancur berkeping-keping, mengutuk dirinya sendiri karena tidak mempercayai Yun Xi. Ia bersumpah akan membalas dendam di kehidupan selanjutnya. Namun, Yun Xi memohon padanya untuk melepaskan kebencian. Ia ingin Lin Mei bahagia, bebas dari belenggu masa lalu.

Kembali ke masa kini, Lin Mei dan Zhang Wei terdiam. Kebenaran telah terungkap. Kemarahan membara dalam dada Lin Mei. Namun, ia teringat permohonan Yun Xi. Ia menatap Zhang Wei, mata mereka saling terkunci.

BAB IV: Balas Dendam dalam Keheningan

Lin Mei memutuskan untuk tidak membalas dendam dengan amarah. Ia memaafkan kasim yang telah menjebak Yun Xi, meskipun rasa sakitnya masih membekas. Ia memilih untuk hidup dengan damai, menghormati memori Yun Xi dengan kebahagiaannya sendiri.

Zhang Wei melukis potret Lin Mei. Di belakangnya, ia melukis bunga persik yang bermekaran di musim gugur, simbol cinta abadi yang melampaui waktu dan kematian. Ia menyerahkan lukisan itu pada Lin Mei.

Lin Mei menerima lukisan itu dengan air mata berlinang. Ia memeluk Zhang Wei erat-erat. "Terima kasih," bisiknya. "Karena telah membebaskanku."

Zhang Wei tersenyum lembut. "Kita berdua telah dibebaskan."

Mereka meninggalkan desa itu bersama-sama, menuju masa depan yang baru. Namun, di malam hari, saat Lin Mei memandangi langit bertabur bintang, ia mendengar bisikan lirih di benaknya, bisikan dari kehidupan sebelumnya: "...Jangan lupakan aku, cintaku. Di kehidupan manapun, carilah aku..."

You Might Also Like: Rekomendasi Pelembab Dengan Ekstrak

OlderNewest

Post a Comment