Embun pagi merayapi kelopak lotus di danau terpencil, sehalus sentuhan ingatan yang memudar. Di gubuk reyot di tepi danau, tinggal Lian, seorang pemuda dengan mata teduh yang menyimpan lautan duka. Ia hidup dalam kebohongan, sebuah cerita indah yang ditenun ibunya sebelum menghembuskan napas terakhir. Cerita tentang ayahnya, seorang pahlawan perang yang gugur demi kedamaian.
Namun, di balik keindahan danau yang tenang, berkeliaran bayangan masa lalu. Bayangan yang mengejar Mei, seorang wanita anggun dengan sorot mata setajam belati. Mei adalah anak perempuan dari Jenderal Zhao, sang komandan perang yang namanya diagungkan di seluruh kekaisaran. Ia datang ke danau, bukan untuk mencari ketenangan, melainkan untuk mencari kebenaran. Kebenaran yang ia yakini terkubur bersama jasad ayahnya, kebenaran yang menghantuinya dalam mimpi buruk setiap malam.
Lian dan Mei bertemu di bawah pohon willow yang meranggas, saksi bisu bisikan angin dan rahasia yang terkubur. Lian, dengan kebaikannya yang tulus, mencoba menghibur Mei. Mei, dengan ketajamannya yang menusuk, perlahan meruntuhkan dinding kebohongan yang melindungi Lian.
"Ayahmu bukan pahlawan, Lian," bisik Mei suatu senja, suaranya serak menahan air mata. "Ayahmu adalah pengkhianat. Ia berkhianat pada kekaisaran, berkhianat pada Jenderal Zhao... dan karenanya, ia harus mati."
Dunia Lian runtuh seketika. Kebohongan yang selama ini menjadi pelindungnya, kini berubah menjadi pedang yang menancap di jantungnya. Ia melihat masa lalunya yang indah hancur berkeping-keping, digantikan oleh kenyataan pahit yang tak tertahankan.
Konflik di antara mereka semakin memuncak. Lian menolak mempercayai Mei, berpegang teguh pada sisa-sisa kebohongan ibunya. Mei, di sisi lain, semakin gencar mencari bukti, menggali lebih dalam ke dalam rahasia gelap yang menyelimuti masa lalu. Setiap langkah yang mereka ambil, semakin mendekatkan mereka pada jurang kehancuran.
Kebenaran akhirnya terungkap di malam badai. Di sebuah kuil kuno yang tersembunyi di balik air terjun, Mei menemukan gulungan perkamen yang membuktikan pengkhianatan ayah Lian. Jantung Lian hancur berkeping-keping. Ia menatap Mei, matanya dipenuhi amarah dan keputusasaan.
"Mengapa kau lakukan ini padaku?" tanyanya lirih, suaranya kalah oleh gemuruh badai.
Mei tidak menjawab. Ia menyerahkan belatinya pada Lian. "Balas dendam, Lian. Balas dendam untuk ayahmu, untuk kebohongan yang telah menghancurkan hidupmu."
Namun, Lian tidak mengambil belati itu. Ia menatap Mei, senyum tipis tersungging di bibirnya. Senyum yang menghancurkan.
"Balas dendam bukan untukku, Mei," bisiknya pelan. "Balas dendam adalah untukmu."
Dengan tenang, Lian melangkah ke tepi jurang dan menjatuhkan diri ke dalam kegelapan.
Balas dendamnya bukan dengan kematian, melainkan dengan kehidupan yang ia renggut dari Mei. Mei, yang kini terbebani oleh rasa bersalah dan penyesalan, akan hidup dengan bayangan Lian yang selalu menuntunnya menuju kematian.
Apakah kebenaran selalu membebaskan, atau justru mengikat kita dalam rantai yang tak terputus?
You Might Also Like: 0895403292432 Jualan Skincare Supplier
Post a Comment