Cerpen Seru: Kau Bilang Cinta Sudah Mati, Tapi Jantungmu Berdetak Setiap Kali Kulihat

Kau Bilang Cinta Sudah Mati, Tapi Jantungmu Berdetak Setiap Kali Kulihat

Episode 1: Seratus Tahun dan Aroma Osmanthus

Rinai hujan musim semi membasahi jalanan Kota B, membuatnya berkilauan bagai permata yang berserakan. Di tengah keramaian, seorang wanita bernama Lin Mei, pemilik toko bunga sederhana bernama 'Kenangan Abadi', tengah menata buket bunga osmanthus yang baru datang. Aroma manisnya menusuk indra penciuman, menghadirkan bayangan samar akan masa lalu yang tak ia pahami.

Setiap kali aroma osmanthus menyeruak, Lin Mei merasakan denyutan aneh di dadanya, seperti jantungnya mengingat sesuatu yang telah lama hilang. Ia sering bermimpi tentang taman luas yang dipenuhi bunga-bunga indah, seorang pria tampan dengan senyum memilukan, dan janji abadi yang terucap di bawah cahaya bulan.

"Lin Mei!" Suara panggilan memecah lamunannya. Chen Yi, sahabatnya, masuk ke toko dengan wajah ceria. "Ada pelanggan yang ingin bertemu denganmu. Katanya, dia ingin memesan karangan bunga yang sangat khusus."

Lin Mei tersenyum ramah. "Tentu. Bawa dia masuk."

Seorang pria tinggi dengan tatapan intens memasuki toko. Wajahnya tampak familiar, namun asing. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang menarik Lin Mei, seperti magnet yang tak terlihat. Pria itu memperkenalkan diri sebagai Zhao Wei, seorang pengusaha muda yang sukses.

"Nona Lin, saya ingin memesan karangan bunga untuk pemakaman nenek saya," kata Zhao Wei dengan suara rendah. "Nenek saya sangat menyukai bunga peony merah. Dia selalu berkata, 'Peony adalah simbol cinta sejati, cinta yang tak lekang oleh waktu'."

Mendengar kata-kata itu, Lin Mei tertegun. 'Peony merah...'. Kata-kata itu beresonansi dalam benaknya, memicu banjir memori yang menyakitkan. Ia melihat sekilas seorang wanita cantik berpakaian merah, berlumuran darah, memegang setangkai peony yang layu.

Episode 2: Bisikan dari Masa Lalu

Sejak pertemuan itu, kehidupan Lin Mei berubah. Ia terus-menerus memikirkan Zhao Wei, pria yang terasa begitu dekat namun begitu jauh. Ia mulai mencari tahu tentang latar belakangnya, mencoba memahami mengapa hatinya berdebar setiap kali ia melihat Zhao Wei.

Sementara itu, Zhao Wei pun merasakan hal yang sama. Ia merasa ditarik oleh Lin Mei, seolah mereka memiliki ikatan yang tak terjelaskan. Ia sering mengunjungi toko bunganya, hanya untuk melihat senyumnya dan mencium aroma osmanthus yang selalu menenangkan hatinya.

Suatu malam, Lin Mei bermimpi yang lebih jelas dari sebelumnya. Ia melihat dirinya di masa lalu, seorang putri kerajaan bernama Mei Lan yang jatuh cinta pada seorang jenderal bernama Zhao Tian. Cinta mereka begitu mendalam, namun terhalang oleh intrik politik dan pengkhianatan. Zhao Tian dituduh berkhianat dan dihukum mati. Sebelum meninggal, Mei Lan bersumpah akan membalas dendam, namun Zhao Tian memintanya untuk melupakan dan menjalani kehidupan yang bahagia.

Namun, Mei Lan tidak bisa melupakan. Ia menelan racun setelah menyaksikan kematian Zhao Tian. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia mengucapkan sumpah: "Kita akan bertemu lagi, Zhao Tian. Di kehidupan selanjutnya, aku akan membuatmu merasakan sakit yang kurasakan saat ini."

Episode 3: Kebenaran yang Pahit

Lin Mei terbangun dengan keringat dingin. Ia menyadari bahwa ia adalah reinkarnasi dari Putri Mei Lan, dan Zhao Wei adalah reinkarnasi dari Jenderal Zhao Tian. Sumpah balas dendamnya telah membawanya kembali ke kehidupan ini.

Awalnya, Lin Mei dipenuhi amarah dan kebencian. Ia ingin membalas dendam atas kematian Zhao Tian, atas pengkhianatan yang ia rasakan. Namun, setiap kali ia melihat Zhao Wei, ia melihat ketulusan di matanya. Ia melihat rasa sakit yang sama yang ia rasakan.

Ia menyadari bahwa Zhao Tian tidak bersalah. Ia dijebak oleh musuh politiknya. Ia adalah korban dari intrik dan keserakahan.

Lin Mei memutuskan untuk tidak membalas dendam. Ia ingin membebaskan diri dari rantai kebencian dan dendam. Ia ingin memaafkan Zhao Tian dan dirinya sendiri.

Episode 4: Keheningan dan Pengampunan

Lin Mei menemui Zhao Wei di taman osmanthus yang sama dengan yang ia lihat dalam mimpinya. Ia menceritakan semua yang ia ingat, semua yang ia rasakan.

Zhao Wei terkejut dan bingung. Ia tidak mengerti apa yang Lin Mei katakan, namun ia merasakan kebenaran dalam kata-katanya. Ia merasakan beban berat di hatinya, beban masa lalu yang tak ia pahami.

"Aku tidak akan membalas dendam," kata Lin Mei dengan suara tenang. "Aku memaafkanmu, Zhao Tian. Aku memaafkan diriku sendiri. Kita bebas sekarang."

Zhao Wei menatap Lin Mei dengan air mata berlinang. Ia tidak tahu mengapa, tetapi kata-kata itu membuatnya merasa lega, seolah beban berat telah diangkat dari pundaknya.

Lin Mei berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Zhao Wei di taman osmanthus. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tahu bahwa ia telah melakukan hal yang benar.

Episode 5: Setelah Hujan, Pelangi

Beberapa waktu kemudian, Zhao Wei mulai mengingat potongan-potongan masa lalunya. Ia ingat janjinya pada Mei Lan, ingat cintanya yang mendalam padanya, ingat pengkhianatan dan kematiannya. Ia mengerti apa yang Lin Mei katakan.

Zhao Wei mencari Lin Mei dan meminta maaf atas semua yang telah terjadi. Ia mengakui kesalahannya dan berjanji akan menebusnya di kehidupan ini.

Lin Mei menerima permintaan maaf Zhao Wei. Ia tahu bahwa mereka tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi mereka bisa membangun masa depan yang lebih baik.

Mereka membangun kehidupan bersama, dipenuhi cinta, pengampunan, dan kedamaian. Mereka menanam bunga peony merah di taman mereka, sebagai simbol cinta sejati yang tak lekang oleh waktu.

(Akhir yang menggantung)

Namun, suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang, Lin Mei mendengar bisikan lembut di telinganya: "...Janji itu... belum sepenuhnya terpenuhi..."

You Might Also Like: Distributor Kosmetik Modal Kecil Untung

Post a Comment