**Tangisan yang Tak Lagi Minta Maaf** Hujan selalu jatuh di atas makam Li Wei. Bukan hujan deras yang menggelegar, tapi gerimis halus yang membasahi nisan dan bunga-bunga layu. Sunyi. Begitulah suasana di sana, seolah dunia menahan napas setiap kali angin bertiup melewati pepohonan cemara. Sunyi yang indah, sunyi yang *mencekam*. Li Wei, atau lebih tepatnya arwah Li Wei, berdiri di tepian dunianya. Di satu sisi, dunia fana yang penuh hiruk pikuk, di sisi lain, lorong kelabu yang menjanjikan keabadian. Dia memilih yang pertama. Dia terikat. Ada benang tak kasat mata yang menahannya untuk pergi. Sebuah **Kebenaran** yang tertahan di kerongkongan, sebuah penyesalan yang terlalu pahit untuk ditelan. Dulu, Li Wei adalah seorang pelukis. Warna-warna menari di atas kanvasnya, melukis keindahan dunia. Namun, keindahan itu terkontaminasi oleh sebuah _rahAsia_. Sebuah pengkhianatan yang dia saksikan, sebuah kebohongan yang dia simpan rapat-rapat demi melindungi seseorang yang dia cintai. Sekarang, rahasia itu membunuhnya, bukan secara fisik, tapi secara *spiritual*. Bayangannya menolak pergi dari rumah tua itu. Rumah yang menyimpan kenangan manis dan pahit. Dia melihat adiknya, Xiao Mei, menyeka air mata di depan meja kerjanya yang berantakan. Xiao Mei, yang selalu ceria dan penuh semangat, kini layu seperti bunga yang kekurangan air. Li Wei ingin memeluknya, mengatakan bahwa dia tidak bersalah. Bahwa kematiannya bukan salah siapa pun. Tapi arwah tidak bisa menyentuh. Arwah hanya bisa mengawasi, meratapi ketidakberdayaan. Malam-malam berlalu seperti kabut yang perlahan menyelimuti kota. Li Wei mengikuti Xiao Mei kemanapun dia pergi. Melihatnya merenung di tepi sungai, mendengar desah kesedihannya di tengah malam. Dia ingin berteriak, "Aku di sini! Aku melihatmu! Aku merasakan sakitmu!" Tapi yang keluar hanya keheningan. Lalu, suatu malam, Xiao Mei mengunjungi makamnya. Dia membawa sekuntum bunga lili putih, bunga kesukaan Li Wei. Dia berlutut di depan nisan dan berbicara, suaranya bergetar menahan tangis. "Gege (kakak), aku tahu kamu marah padaku. Aku tahu aku tidak bisa melindungimu. Tapi percayalah, aku akan mencari tahu kebenarannya. Aku akan membuktikan bahwa kamu tidak bersalah." Mendengar itu, hati Li Wei – atau apapun yang tersisa dari hatinya – bergetar. Bukan amarah yang dia rasakan, bukan pula dendam. Yang dia rasakan adalah **KELEGAAN**. Dia akhirnya mengerti. Dia tidak kembali untuk membalas dendam. Dia tidak kembali untuk menuntut keadilan. Dia kembali untuk memastikan bahwa Xiao Mei tidak memikul beban yang terlalu berat. Dia kembali untuk mencari *kedamaian*. Keesokan harinya, Xiao Mei menemukan sebuah lukisan tersembunyi di balik kanvas-kanvas lama di studio. Lukisan itu menggambarkan wajah seorang pria yang tampak familiar, seorang pengusaha kaya yang memiliki reputasi buruk. Di belakang lukisan itu tertulis sebuah nama dan tanggal. Sebuah bukti. Xiao Mei akhirnya menemukan kebenaran. Kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh orang-orang yang berkuasa. Kebenaran yang membunuh Li Wei. Dan dengan kebenaran itu, Xiao Mei akhirnya bisa membebaskan kakaknya dari belenggu penyesalan. Di saat matahari terbit, Li Wei berdiri di puncak bukit, memandang kota yang mulai menggeliat. Dia melihat Xiao Mei berjalan dengan tegap menuju kantor polisi, membawa bukti yang akan mengungkap semua kejahatan. Angin bertiup lembut, membawa aroma bunga lili dari makamnya. Bayangannya perlahan memudar, menyatu dengan cahaya mentari pagi. Beban yang selama ini membebani pundaknya menghilang. Mungkin, dia baru saja merasakan kedamaian… untuk terakhir kalinya.
You Might Also Like: 7 Fakta Arti Mimpi Memberi Makan Tawon
Post a Comment